Monday, December 3

JALAN ORANG

Senin, 3 Desember 2007

+ Jadi adek-adek ini nggak bisa nyetir?
++ Belum bisa, pak…bukan nggak bisa…

Ternyata orang ini menyimak ‘pembicaraan keluarga’ aku dan adikku tentang semua perempuan dalam satu rumpun kekerabatan darah yang tidak bisa menyetir.

+ Gampang dek…saya kasih tau kuncinya ya.
++ Bapak udah lama nyetir?

Jangan terlalu gampang percaya dengan orang asing, kan?

+ Wah saya udah 13 tahun nyetir taksi, neng. Dan dengan kunci ini, alhamdulilah saya nggak pernah kecelakaan. Pokoknya saya mah jauh lah neng dari kecelakaan.

Wow, pasti ini kunci ajaib.

++ Emang kunciannya gimana tuh pak?
+ Anak-anak saya 3 orang pokoknya saya kasih kunci ini juga…alhamdullilah nggak pernah kecelakaan.

Dia denger nggak sih.

++ Kuncinya apa dong?
+ Pokoknya mah neng, jangan ambil JALAN ORANG.

Kuncinyaaaaaaaaaaaaaa.

++ Pak, ya kuncinya apa dong tuuuh?
+ Ya itu neng…jangan ambil JALAN ORANG.

Owh? Salah sendiri intonasi kalimatnya nggak jelas. Tapi…

++ Maksudnya jangan ambil rejeki orang?
+ Bukaaaan…gini nih neng…ini kan ada garis pembatas tengah jalan. Naaa, neng harus tetap di jalan neng, JALANnya KITA…jangan ambil JALAN ORANG kayak begini (sambil memperagakan mobil jadi sedikit melenceng ke kanan).

Hmmm. Hm? Dan dia tetap melanjutkan.

+ Kalo ngambil JALAN ORANG mah…pasti rawan kecelakaan. Jangan mentang-mentang sepi, terus ngerasa mobil kita boleh di tengah. Apalagi kalo kita mo belok kayak gini. Jangan sekali-sekali, neeeeng…bapak mah kasih tau aja.

Kami pun berbelok ke kanan. Satu belokan terakhir lagi ke kiri akan mengantarkan aku dan adikku ke tempat tujuan.

+ Keliatannya sih sepi ya neng. Padahal mana tau kalo nanti tiba-tiba ada mobil ato motor dari depan. Bahaya pisan.
Pokoknya mah tetap di JALAN KITA aja, jangan ambil JALAN ORANG.
++ Kalo kita nggak ambil jalan orang, tapi orang yang seenaknya ambil jalan kita, gimana dong?
+ Itu mah gampang. Tinggal banting setir dikiiit aja ke kiri jalan, pasti kita lepas dari bahaya. Yang penting kita tetap di JALAN KITA. Neng mau ngebut juga terserah, yang penting jangan ambil JALAN ORANG.
Cewek-cewek sekarang teh senengnya ngebut-ngebut. Kemaren bapak aja sampe kaget, ada 6 mobil bereretan kebut-kebutan. Cewek semua, neng! Gapapa lah. Asal itu ajalah neng, nggak ambil JALAN ORANG. Dan tetap hati-hati.

Kami lalu berbelok ke kiri. Melewati beberapa rumah dan akhirnya sampai di tempat yang dituju.

++ Ini pak. Kembaliannya biar aja. Nuhun pisan pak.
+ Iya neng. Sama-sama.

Entah berapa kali dia menyebutkan ‘JALAN KITA’ dan ‘JALAN ORANG’. Tetap di 'jalan kita'…jangan ambil 'jalan orang'. Dan entah mengapa, aku merasakan bahwa dia sebenarnya TIDAK SEDANG BERBICARA tentang SEBUAH KUNCI untuk menyetir. Entahlah.

Friday, November 23

THE UNFINISHED BUSINESS

Trace your life back.
How many unfinished business u have?

Beberapa diantaranya perlu benar-benar diselesaikan. Beberapa lagi mungkin tidak. Tapi mungkin gara-gara ada beberapa celah di kepala yang sudah tidak begitu dibutuhkan untuk urusan sehari-hari karena sudah otomatis terpola…atau mungkin seiring dengan banyaknya celah bersisa karena banyaknya waktu yang dimiliki sekarang…atau justru karena kubikel otak terlalu jenuh berjejal sehingga menciptakan gelembung baru yang minta diisi, karena itu seseorang lalu bisa saja tiba-tiba punya keinginan besar mengisi celah atau gelembung itu untuk sekedar merapikan-sambil siapa tahu menemukan petualangan dalam-some of unfinished business.

Well, trying to swing from extreme to extreme for something we call answer or proving. Spending so much energy to fulfil a piece-little fact big effect-of neverending curiosity. Let’s see what you can come up with.

Ryo Ardhana
26-04-07 03:25
Feel like wanna stop the time for running…Anyway it was a great conversation that we had just now. Sleep tight Pink…

Pinkan
26-04-07 03:30
It was not only great, it was the greatest conv i’ve ever had..thx a lot ry..and keep ‘wondering’ about what u’ve just asked..ego cewek..hehe..sleep tight too

Ryo Ardhana
26-04-07 03:31
Hahahahahaha with no doubt… I will…

Tiga sms penutup sebelum tidur yang bikin susah tidur. Cukup 3 sms itu saja bisa menyempurnakan (how complicated) my day (was) untuk membayar sebuah rasa penasaran. Sebuah rasa penasaran yang diisi dengan 3 jam ‘ngegotik’ (ngobrol and ngupi-ngupi cantik halahhhh)…yang ternyata tidak cantik juga, karena malam itu tidak sedang berusaha (keras seperti biasanya) untuk terlihat cantik. Greatest conversation, setidaknya itu ungkapan jujur. It was the greatest conversation…that unfortunately created greatest tsunami in my head (and heart, definitely). I don’t think I can do it again next time, with my other unfinished things.

Berawal di suatu sore…urus-urus setumpuk administrasi kerjaan ampe murus-murus…ngulik dana pendidikan untuk masa depan beberapa anak dari sebuah keluarga muda…itung-itung dana pensiun dari 12 karyawan sebuah perusahaan kecil yang baru berkembang…presentasi bisnis dengan seorang teman…meeting dengan client lain dari luar kota…tanpa terasa setengah 10 malam. Exhausted. Tapi puas…semua berjalan lancar…berasa pinter dan tegar mengalahkan kerasnya ibukota, plus sanggup menguasai permainan hidup…hehe berlebihan abesss.

Sampai rumah…tawaran makan (kelewat) malam sop kambing di roxy kayaknya bakal bikin sempurna hari ini. Thanks to Deya…mahluk kos yang penjelajah wisata kuliner di jam-jam enggak lazim. And thanks to Bebe. Yang selalu mengiyakan segala bentuk ajakan baik lazim atau tak lazim di jam-jam nggak lazim. Punya 2 jenis teman seperti itu bakal nggak akan masalah untuk beraktivitas apapun-kapanpun-dimanapun, apalagi untuk sekedar mencari makan. Kalo sudah tidak ada mereka berdua di dunia ini, mungkin aku akan mulai berteman dengan Teh Botol.

Urusan kerja nggak masalah, urusan makan nggak masalah, tiba-tiba hidup gue kedatangan yang entah namanya masalah atau apa…lewat 1 panggilan telpon dari ‘teman’ lama yang sebenarnya sudah entah dimana kabarnya. Hasilnya?

Percakapan segi empat di salahsatu café 24 jam hasil janjian lewat panggilan telpon tadi sebenarnya berjalan cukup lancar. ‘Basa-basi bergembira’ terlaksana dalam suasana sempurna.

“Jadi selain gw, lu ga pernah punya cerita lagi ama anak teknik?”

Nahhh…kayaknya masalah atau apapun itu dimulai dari pertanyaan ini. Dua orang (yang tadinya) partner makan sop kambing langsung menganalisa semua makna dan maksud di balik pertanyaan itu dengan otak mereka (yang kayaknya sih sebenarnya sama aja kecilnya ama punya gw…tapi cukup cepat untuk berkesimpulan) sehingga dengan penuh pengertian mereka pun pasang muka capek dan ngantuk dan cabut…membiarkan aku berdua saja ngobrol dengan sang penelpon di tempat ngopi ini, dengan 1 botol bir dihadapannya…(loh?)

Ryo Ardhana. Sekali lagi, ini adalah “teman” lama. Wajar kalo terlalu banyak yang mau saling diceritakan. Setidaknya itu yang terlintas di kepalaku kenapa merelakan diri untuk tinggal ngobrol lebih lama di tempat ini. Tiba-tiba satu titik dari berbelas-belas…eh berpuluh-puluh…nope, satu dari beratus-ratus ribu titik lainnya di hati ini yang tadinya tak terlihat mulai menunjukkan sinyal ‘on’ dengan warna hijau terang yang menyala. Titik hijau yang keciiiiiillll tapi benderang dari titik lainnya. Titik hijau yang tampaknya tidak akan bereaksi kalo pun dipencet berkali-kali. Hopefully.

BEBE
26-04-07 00:44
Eh,pink, ada warung kuning dpn ohlala yg buka 24jam, utk beli “sarung”…(kata deya looh) hehehe bcanda…Wajah mirip lw,jeng ;D

Oke. Bebe dan Deya mulai mengeluarkan isi kepala mereka sembari pulang. Aku mulai membayangkan apa saja yang jadi obrolan mereka sepanjang perjalanan pulang tentang orang di hadapanku ini.

“Dasar…nih, otak temen2 gw…geblek yak.. hehe” kataku menceritakan isi sms itu, tentunya tanpa menambahkan kata-kata ‘wajah mirip lw’-nya. Aku cuma tidak mau dia berpikir lebih. Kata-kata itu juga yang dulu pernah dilontarkan seisi dunia saat orang di depanku ini pernah memasuki kehidupanku. Aku menatap kembali keindahan ‘gaun impian’ yang pernah sukses aku lupakan ini. ‘Gaun impian’ di etalase. Gaun yang bahkan semua orang di dunia ini sarankan untuk membeli, kecuali sang desainer. Karena cuma dia yang tahu kalo gaun ini meskipun sangat pas dengan ukuran tubuhku tapi tidak dia buat untuk aku, sehingga dia diam saja berharap aku mengerti sendiri. Gaun yang aku tahu akan membuatku terlihat seperti putri salju yang cantik, seolah sengaja dirancang untukku. Tapi akhirnya aku tersadar kalau harganya terlalu mahal, padahal belum tentu dapat sering aku gunakan. Untuk menghibur, aku lebih baik katakan kalau lemariku masih lebih terlalu bagus untuk diisi gaun itu. Entah apa yang membuat aku saat itu bisa bertahan untuk tidak menjadi impulsive buyer. Bukan karena aku benar-benar mengerti, hanya karena aku menahan diri.

“Wah, orang berasumsi karena apa yang mereka liat dan tangkap dengan mata atau telinga. Are you…ummm…???” dia membuyarkan nostalgiaku yang kunikmati sendiri.

Dan hey, itu pertanyaanku, tahu. Tapi yang keluar, “Ya ga laaahhhh. Ga tadinya, sampai sebelum mereka sms begitu. Hehe, kiddin…”

Oops, did I push the green button a little bit too hard? Nggak sengajaaaaa…sumpeeee. Keluar begitu aja. Obrolan berlanjut.

“Ingat nggak waktu atm gw ilang….terus ternyata kok bisa ada di dompet lu?”
“Gw inget kok kamar kos lu waktu kuliah dulu…turun tangga sebelah kanan…”
“Oh..asbak yin yang itu…ya ya ya…berarti cowok teknik itu sebelum lu kenal gw”
“Terakhir gw denger lu ama orang Jogja. Gw pikir baguslah. Didn’t work out?”
“So, now you’re free? Totally free as a bird?

Okeh….suasana ‘nostalgia’ berbalut ‘teman lama’ sudah mulai berasa lewat serentetan pertanyaan dan pernyataannya itu. Dan dalam banyak cerita, dia tampak JAUH LEBIH MENGINGAT DETAIL. Sementara, gw seperti biasa dalam banyak cerita reuni cuma bisa manggut-manggut sembari berkomentar: Masa?-Oh iya ya?-Oh my God, emang segitu berkesannya ya melakukan hal-hal bersama eke…hehe-serius gw pernah ngomong gitu?-dst-dst. Sampai akhirnya:

“Oya gue mo tanya sesuatu ama lu. Hmm, it’s kind of unfinished business with u. Etis gak ya gw tanya ini?” sembari sorot matanya terlihat menimbang-nimbang.

Yak…masalah atau apapun itu mulai terasa dekat.

“I think…I’ve ever said something to you……but your body language said no…was it true?”

“Hm?” Niat gue malam ini cuma mau berpartisipasi dalam obrolan nostalgia ringan masa-masa di Bandung…malah berakhir dengan terlalu banyak pengakuan…“I actually didn’t say no.” Ha, Thanks to my big mouth…yang ‘banci’ sharing dan presentasi…(aduhh, efek profesi). Ahhh, jawaban tadi terlalu cepat, terlalu cepat, terlalu cepaaaat. Terlalu spontan dan reaktif, nih. Next time, be responsive please. Not reactive. Okeh, sekalian aja mari kita masuki ajang pengakuan dosa. Kayaknya bakal seru juga. Tombol hijau di hati sepertinya mulai kedap-kedip, dan…membesarrrrrr??? You know, I’m always prepared to hear the truth. But then I realize that I’m hardly prepared to tell someone the truth. Jadi kenapa nggak untuk coba memulai malam ini? Seenggaknya kejujuran itu ‘kan menyehatkan jiwa. Jadilah obrolan malam itu lebih mengarah ke pengakuan dosa yang berantakan. ‘Ngegotik’ yang menguras hati dan logika.

DUANXXXXXXXX!!!!! Kepala mau pecah. Selalu begini kalau terlalu banyak informasi yang masuk ke otak gue bertubi-tubi (who’s not anyway?). Tapi, masalahnya ini bukan hanya informasi baru…setumpuk file yang udah lama terkubur dalam yang namanya ‘folder delta-alam bawah sadar” slash “recycle bin-tapi sayang untuk bener-bener dibuang” juga ikut di korek dan diobrak-abrik. Itulah si tombol hijau. Tombol kecil yang sekarang ternyata sudah sebesar kepala dan benar-benar pecahhhh. Di dalamnya terlihat gudang yang besar dan agak berantakan.

Hhhh…my oh my short memory sindrom…orang menyebutkan nama waktu baru kenalan aja bisa dalam 2 menit langsung otomatis masuk recycle bin otak gue kok, apalagi memory yang bertahun-tahun lalu? then u can imagine…

Jadi kalo semua nama dalam gudang slash recycle bin itu aja hanya bisa terlihat samar, apalagi nama-nama seperti Bonita, Patricia, Siska, Wichita, Okigawa, dan entahlah sederetan nama cantik lain dari perjalanan cintanya yang baru diceritakan, tidak terdengar begitu jelas lagi. Mahasiswi ampe pramugari….enam bulan ampe 4 tahun…apa ya itu…usia kehamilan atau umur kucing pun udah gak terdengar berarti.

Tapi kali ini sepertinya bukan sekedar karena masalah ingatan. Ini hasil dari si tombol hijau. Ahhh, toh yang penting adalah apa yang gw katakan sekarang, bukan yang sudah terjadi dan yang sudah dia ceritakan. Hhhhhh, meskipun isi kepala jadi berantakan…seenggaknya si gudang berantakan di hati udah sedikit di rapikan dan itu lebih melegakan.

Kenapa pengakuan seperti ini tidak dilakukan pada yang lain sebelum semuanya terlambat, ya? Sebelum ‘gaun indah’ lainnya sudah terbeli untuk dihadiahkan kepada oranglain. Beberapa nama bermunculan di kepala untuk juga diberi pengakuan dosa, yang pastinya saat aku melakukannya nanti sudah lebih bagus tertata. Hehe. Tapi…oops, apakah semuanya yang ada di list sudah terlambat? Ouch. Ok, back to this guy in front of me first. Kelarin aja dulu yang satu ini. Baru pikirin yang lain. Fokus, neeeeng. Now all I need to know, where this conversation is gonna bring me to.

“Ok, berarti saat itu gw bego ngga berusaha lebih keras, dan lu bego karena ngga ngeh-ngeh juga,” ia menarik kesimpulan dari semua pengakuanku. Kesimpulan yang sangat tepat di satu sisi, karena aku bener-bener tidak ‘ngeh’ seperti biasanya aku jika ada yang memberi sinyal-sinyal ajaib itu. Hggg, ini dia susahnya hidup di lingkungan pertemanan yang sangat-sangat ekspresif. Hal-hal biasa aja di tunjukkin berlebihan. Ya kata-kata, ya ekspresi, ya perbuatan. Dari yang semi ampe yang totally Drama Queen. Jadi saat ada seseorang dari luar sana yang tidak extremely expressive untuk nunjukkin bahwa ada sesuatu yang ‘lebih’, I just don’t notice. Not that I don’t want to. Emang nggak ngeh aja.” Tapi kesimpulannya tadi juga salah di sisi yang lain. Coz somehow… at that moment, I actually saw that we wouldn’t go anywhere. Gaun yang bukan untukku.

“Sadar nggak sih kita nggak pernah kontak fisik?” katanya tiba-tiba mengagetkanku dengan isi pertanyaannya, bukan karena ‘tiba-tiba’ nya. Here we go.

“Maksudnya?” aku pasti terdengar bodoh. At least keluar dengan mantap. Yang penting mantap dulu deh, ah. Masih jetlag nih.

“Ya kontak fisik….u know…” auuuchhh, mata itu tiba-tiba sangat familiar.

“Masa sih??? kayak: yuk makan… sambil gw gandeng lu gitu, masak ga pernah….???” Aku masih berusaha terlihat biasa untuk reaksi tidak biasa yang mulai kembali mengguncang si gudang.

“Ya bukan yang begitu…u knoowww…”

“Ohhh…ok. Ya iyalah ga pernah, kan kita nggak pernah pacaran.” Huahhh, asal dia tahu sampai detik ini aku masih mempelajari pola pikir orang-orang yang bisa melakukan hal itu tanpa komitmen. Masalahnya aku hanya tidak bisa mengerti. Belum, mungkin.

“ Ok ok, You know…I’m just curious if u dare to kiss me on my lips….”

GEDUBRAKKKK. Yak, si gudang yang tadinya rapi sekarang sudah hancur lebur. Setengah nggak jelas…(dan nggak percaya?) Aku mendengar pertanyaan itu sambil tanganku terus berusaha membuka gembok pagar rumah. Heyyy, gembok pagar ini biasanya sangat gampang dibuka!!!!! Tapi kenapa tiba-tiba jadi macet begini? Jari-jari tangan kananku dapat pengakuan otentik dari semua penghuni kos untuk dianggap ahli membuka gembok ini.

“Jangan grogi gitu, dong!”

“Huahauhahahaha, sial lu,” This time, I’m trying so so so hard not to become overly emotional. Stay rational. Stay rational. Stay rational.

“Gue tahu kalo lu bakal nyengir kuda kayak gitu…” katanya sambil mendekat berusaha membantu. Tidak tidak tidak, jangan dekat. I can’t stand of physical contacts. I’ll become very unraaaaaational!!! BRUKKK….gembok suksesssss terbuka. Manusia jika di bawah tekanan memang suka dapat pencerahan.

“So the answer is?”

“Hmm….hehe, no, for me is no. Sorry,” jawaban hampir mantap yang beradu pedang dengan rasa penasaran. At least terdengar mantap.

“Why?”

“For the sake of your wife” Iyalah….yang baru pacaran aja nggak pernah berani gw ganggu, apalagi yang udah komitmen lebih.

“Ok, so it’s for the sake of my wife, not becoz I’m a married man?”

Apa bedanya ya? But anyway…“Yesss” anggukan yang mantap. At least terlihat mantap. Tapi ini sepertinya beneran mantap. Reruntuhan gudang sudah beres, tampaknya. Tidak ada lagi sisanya. Kemana ya perginya. Tetapi memunculkan sensasi hebat. Karena kini mulai terpikir malah kalau orang ini tidak bersyukur apa ya? Istri dan anak perempuan cantik-cantik plus pekerjaan mapan ternyata masih nggak berhasil bikin orang memandang ke depan. Tapi sibuk ngurusin kliping nggak penting yang harusnya nggak perlu diselesaikan. Malah harusnya di buang aja. Karena isi klipingnya cuma kenangan gambar-gambar HP yang dulu pengen banget di beli dan sekarang toh udah nggak jaman. Dibuka-buka klipingnya terus jadi kepingin punya-siapa tau masih ada yang jual-sekedar buat disimpan sebagai koleksi. Seru aja buat ngisi waktu luang. Bisa jadi bahan obrolan guystalk pula.

“Well, gw juga berani nanya ini karena gw tau lu bakal bilang nggak…karena gw tau lu orang yang setia. Thanks ya. Nite nite.”

Dia berlalu. Daaaaammmmned. Terima kasih akal sehat. (Terdengar seperti intonasi iklan Tje Fuk di kepalaku.) Terima kasih sudah mau bekerja keras di jam 3 pagi ini. Terima kasih untuk berteguh pada pendirian yang dibangun bertahun-tahun, yang hampir berantakan karena ‘ujian prinsip hidup’ selevel S3 ini-emang S3 rasanya gimana siiiyy???? Thanks to a glass of coffee and lemon tea only. Meskipun godaan sebotol bir dingin melambai-lambai sepanjang obrolan di café. I just wanna stay sober tonite for the case like this!!!! Ini saja tidak teringat dengan jelas, bagaimana aku yang tadinya ngobrol di café bisa sampai di rumah. Kopi dan teh aja bisa semabok ini?

Sms. Nggak. Sms. Nggak. Sms. Nggak. Sms. Nggak. Aduh beserrr….pipis dulu ahh. Back to the bedroom. See, bersabar dong. Terpampang 1 sms. Bales 1 sms. Muncul 1 sms. Ok, 3 is enough. Sms penutup sebelum tidur yang bikin susah tidur. Tidak perlu dibalas lagi. Tidak perlu dibalas lagi. Tidak perlu dibalas lagi. Aku menguatkan hati.

Hhhhhhhh…..aku mengambil napas panjang untuk mengawinkan otak dengan oksigen. Beranak pinaklah mereka menghasilkan pikiran jernih yang lebih banyak. Mulai terpikir lagi kalau malam ini bukan sekedar masalah prinsip setia nggak setia. Kissing u on your lips? WOW DARLING, AT THE TIME I DO IT, YOU’RE DONE WITH YOUR UNFINISHED BUSINESS…BUT MINE THEN JUST STARTED…

FINITO. It supposed to be so. Darling, I’ll let your fantasy alive in what you call as your parallel world. And this super special-spicy-presto-ready to eat-yummy head to toe salmon will always be kept in a clearly seen-strong-hard to open tin…without letting you know further how hard it keep itself not to jump out to satisfy its awkwardly charming and tempting predator.

You’re not the first time. But, surely one of the hardest distraction to ignore. Hopefully, I’ve learned one higher level of this kind of game. Because there will always be another you for distraction. So, I guess…….it’s much more about a bunch of most men ego versus my lil’ one. Yes, that’s what it’s all about. WHAT A REAL UNFINISHED BUSINESS.


***









Epilogue:

Ryo Ardhana
26-04-07 05:15
“my woman, can we skip dating” GILAAA… honestly if it’s a short novel, i’ll give u award for it. Hehehe selain elo banget and it has great style of words that u used…

Bangun di jam setengah sembilan pagi dengan menemukan sms baru darinya membuat ego ku benar-benar menari…tapi otak dan hati kosong…tak tahu harus merasa apa…karenanya tidak tahu harus menjawab apa. Sampai akhirnya hampir satu setengah jam kemudian:

Pinkan
26-04-07 09:54
And now i think i just had my nxt story in mind about UNFINISHED BUSINESS huehehe

------

Thursday, November 22

KELUAR DI DALEM

(Rabu, 21 November 2007)

Latong  : Sebenarnya loe keluarin di dalam ato di luar siy?
Pinko    : Hmmm, di luar kayaknya…kok gw lupa ya?
      
Latong  : Kok bisa lupa? Gawat banget siy lo? Enaknya tuh keluar di dalem bo…kalo di luar, capek…
Pinko    : Semenjak diajarin yang bener…pas di dalem malah gw tahan-tahan…salah ya?
Gw masih belum menikmati siy…masih pake mikirrrrr tiap gerakannya…
Tapi seenggak-enggaknya, setelah tau yang bener, gw nggak nyangka bisa selama en setahan itu…gila deh…
Ah, jadi nggak sabar ketemuan lagi minggu depan…mudahan udah nggak pake mikir…udah lebih enjoy…dan bisa keluarin di dalem…pasti lebih dahsyat…

Latong  : Tapi gaya loe dah lebih mendingan kok…
Pinko    : Oya? jadi malu heueheu pantesan selama ini gw nggak bisa bertahan lama ya…
Aduh, badan gw remuk redam niy…baru kali ini selama dan setahan ini…tapi gw senenggg dehhhh…minggu depan lagi ahhhh….

Latong  : Bener ya, minggu depan ketemuan lagi…jangan absen2 dong jadwal berenangnya, biar gaya kupu-kupu loe makin bener…
Napasnya tuh terutama dibenerin, dikeluarin pas loe di dalem air dan di luar tinggal narik napas doang…jadi nggak gampang capek…
Pinko    : Syiippppp…ampe ktemu bernang lagi rabu depan yaaaaaaaaaaa…

Tuesday, June 12

MPEK-MPEK KULIT

(Senin, 11 Juni 2007)

Bangun siang ini (heh???siangggg???) terasa berat. Aku memandang kardus dengan setumpuk paket oleh-oleh dari kota 'wong kito galo' yang aku bawa 3 hari yang lalu. Aduuuuh, menggoreng mpek-mpek itu terasa 3 kali lebih berat dari ujian thesis S3 (idiih, padahal S2 saja aku belum). Kenapa juga aku memilih mpek-mpek kulit yang harus digoreng segala, ya!? Yang terpikir saat membelinya memang karena yang jenis itu jarang kutemui di ibukota. Apalagi mpek-mpek Lenny dengan spesialisasi mpek-mpek kulitnya itu lagi happening di Palembang, pastinya aku membawa sesuatu yang istimewa untuk teman-teman di Jakarta. Jadilah untuk setiap paketnya aku pilihkan sebagian mpek-mpek kulit dengan porsi yang lebih banyak dari jenis mpek-mpek lainnya. Mau bawa oleh-oleh aja perfeksionis sih pengen dikenang segala, jadilah semua keribetan ini menghampiri dengan sempurna. Mana aku sudah janji akan membagi-bagikannya hari ini, lagi. Janji adalah janji. Coz I'm a word person. Seperti lirik lagu pembuka acara News.com di Metrotv, janji sini janji sana asal bijaksana. Heh? Masak janji bawa mpek-mpek aja nggak bijaksana???? Tinggal di goreng,Pinky....tinggal digorengggg!!!! teriak suara hati kecilku.

Ampun, rasa malas menggoreng mpek-mpek ini menghantam keras karena otakku sudah aku brainwash sendiri bahwa aku tak bisa memasak. Dan dunia ini toh juga memaklumi hal itu. Tidak seorang pun protes kalo perempuan kota tak bisa memasak. Tapi semua menganga heran kalo masih ada perempuan kota yang tidak bisa menyetir. (Dan aku tidak bisa dua-duanya?????hiks)

Sekilas aku melihat jam dinding...setengah 12???? masih harus ke bank, anter 2 bungkus besar mpek-mpek ke kantor yang satu di Ratu Plaza, anter 1 bungkus utk teman yang berulangtahun, anter 3 bungkus ke kantor kedua di Menara Thamrin, submit pekerjaan dari luar kota di kantor kedua yang lumayan banyak….aku pun langsung menyambar berbungkus-bungkus paket mpek-mpek itu. Whatever will be, will be…(by Renaldi, di salahsatu film –bokep-Indonesia jadulnya heuhehue)…

Ibu kos dengan senang hati membantu utk mengontrol gorenganku, tapi tidak senang hati membagi minyak gorengnya. (Menurut loe, Pinkkk? Semua koran dan tv sedang membahas harga minyak goreng gitu lohhh????)

Bungkus pertama. Aku menatap tajam ke kertas selipan Petunjuk Khusus Menggoreng dari ci Lenny, penjualnya. Ini mpek-mpek istimewa dengan cara memasak yang tidak boleh salah, kecuali kalo rela makan mpek-mpek kulit rasa karet. (By the way, di bandara tidak seorangpun terlihat membawa mpek-mpek Lenny…melainkan mpek-mpek Vico, Candy, Ahmad, Pak Toha, dan sederet nama lain yang semuanya mengaku istimewa…apakah mereka lebih direpotkan oleh mpek-mpeknya daripada aku?) Hwahhhh, memasak biasa aja butuh pengerahan seluruh energiku, ini harus memasak dengan cara khusus???? Akupun menggoreng dengan meminta dukungan semesta. Ibu kos melirik-lirik dari ruang tv yang tidak jauh dari dapur sambil senyam senyum. HP berdering pun tak ku gubris karena ini adalah meeting super duper extra penting antara aku dan mpek-mpek kulit ku. Ini pun baru sesi ‘ice breaking’ that hard to break, hellppppp…..

Suara ibu kos yang akhirnya ikut membantu, akhirnya juga bisa membuat aku bernafas normal,” Segini udah mateng nih, Pink,”……bfffwuahhhhh….rasanya kayak baru muncul di permukaan air setelah 1 menit nahan nafas maen lama-lamaan menyelam di kolam renang.

Bungkus kedua. Ibu kos masih dengan baik hati melibatkan diri.

Bungkus ketiga. Sang maestro urusan dapur masih tetap terlibat. Tapi kali ini kok rasanya lebih ke pengontrolan pemakaian minyak goreng. Gue beliin 2 botol baru deeeeeehhhh, teriakku dalam hati. Kalo saja bukan karena kemahirannya membolak-balikkan mpek-mpek itu….ughhhh…

Bungkus keempat. Sang owner dari minyak goreng (dan dapur ini, tentu saja) hanya tinggal mengawasi, aku sudah bisa bolak-balik gundukan-gundukan tepung ini sendiri. Masih kaku, tapi setidaknya mereka tidak cerewet untuk dibolak-balik.

Bungkus kelima. Hmmm, mulai terbiasa. Ibu kos sudah sibuk sendiri di ruang tv. Entah karena sudah percaya pada kemampuanku, atau sudah berasa ACDC-Aduhhh, Cape Duehhhhh, Cingggg. Culik dikit nambah minyak goreng, ahhhh. Heuheuehue. Wow…look, I can cook. It’s fun actually, pikirku sambil menyeka keringat di seluruh wajahku yang segede-gede dosa (dosanya siapa?) slash yang sedahsyat kepelitan ibu kos (tapi akhirnya selintas terpikirkan olehku kalo bisa jadi itulah ibu rumah tangga yang pandai berhemat) slash yang sespektakuler rasa malasku di awal bangun tidur.

Bungkus-bungkus berikutnya aku sudah merasa seperti koki-koki handal di tv…..

Alrighttttt….Bungkus ke delapan. It’s a wrap. Hihihihi…aku cengengesan sendiri membayangkan aku bisa memasak. Dua bungkus lebihnya untuk dibagi-bagi di kos dan diri sendiri. Kan harus kasih hadiah untuk diri sendiri. Hi, my future husband wherever you are, you’re lucky!!!! (Berlebihannn…hehe)

Aku merapikan 8 bungkus mpek-mpek kulit dengan aroma luar biasa dan warna kuning menggoda itu bersama dengan teman-temannya dari jenis yang berbeda di setiap paketnya. Siap diantar ke berbagai ‘spot’ yang sudah dijanjikan. Kepuasan tidak terkira mengaliri seluruh rongga dadaku. Kepuasan karena ternyata aku bisa. Dan terbukti dari erangan-erangan nikmat keluar dari mulut beberapa penghuni kos yang sudah mulai menyerbu 1 paket hasil memasakku. (Hei, tentu saja mengerang, karena kepedesan bumbunya.)

TERNYATA BENAR, Lebih mudah untuk mulai melakukan sesuatu untuk bisa merasakan sesuatu, daripada harus merasakan sesuatu dulu untuk mau mulai melakukan sesuatu.
(Psikolog Harvard Jerome Bruner,”Lebih mudah bertindak sebelum merasakan sesuatu, dibanding merasakan sesuatu untuk bertindak.” )

That simple!!!

Saturday, April 28

PROYEK MERCUSUAR

P1 : Hmmm…pacarannya berasa udah lama nggak sehat. Gue mati rasa dan dia berlebihan. Jadi baru hari ini tadi gw putusin. Sedih….

PINKO : Sedih??? Sedih ato lega?

P1 : Lega juga sih….

PINKO : Banyakan leganya kan?

P1 : Iya sih, hauahuahuahauahuahua

PINKO : Dasar, ga usah sok ngomong sedihnya duluan dong…

P1 : Hauahuahauhauahau

PINKO : Gila ya, but you two seem so perfect together. Ganteng dan ganteng, gaya dan gaya, baek dan baek, dia romantis lu cuek. Dia rapi dan lu asal. Dia teratur sedangkan lu harus di atur. Dan kalian ga pernah berantem. So, God damn why??????

P1 : …..

O : Itu mungkin namanya Proyek Mercusuar Pink.

P1 : …..

PINKO : Hah? Ohh? Ohh…ya?? wow, waduh...ok….I know then. Damned! Dan itu yang bikin kita gak pernah ngerti napa (what we see or we think as) perfect couples bisa tiba-tiba bubyarrrr.

O : Dan mungkin bisa bikin kita juga ga sirik. Karena begitu mulai sirik ama yang terlihat perfect, we never know…bisa jadi, cuma PROYEK MERCUSUAR! Yang satu selingkuh…yang satunya udah pasrah. Atau dua-duanya asas manfaat. Atau based on whatever other reason that we don't know Hehe…

PINKO : Wowwwww…hmmm….kok tiba-tiba ngarep beberapa orang memang bener-bener cuma proyek mercusuar ya? hauahuahauhauahuah n i don't know why, somehow i believe they are....

O : Hauahuahuahauahuahua, DASAR.

P1 : Hauahuahauhauauahua, SILENT BITCH.

BRUTALITY BONUS (TWO WAY MONOLOGUES)

Gw takut ama lu. Lu terlihat yakin saat masuk dan ambil tempat duduk dengan meluk laptop lu yang gw yakin di balik bungkusnya adalah Mac. Dan gw rasa gw tau tipe lu dari pilihan laptop lu. Lu lebih senang memilih sesuatu yang long lasting. Waktu itu lu jalan dengan fokus. Benar-benar datang dengan udah tahu mo duduk di mana dan dengan tujuan hanya mau nonton live music, nyanyi-nyanyi, bersenang-senang dengan teman-teman lu, that’s all. And the way you dress, I like it. You’re simple. That’s sexy. Dan gw berfantasi tentang lu. Tapi gw juga berpikir, ngehe nih cewek…..napa dia bikin gw takut ama dia. Beneran lu bikin gw takut.

-----hmmmm…bla bli bluuuu-----

I do think you’re sexy…I wanna make love with you...and you?

-----ohhhh…brak bruk braaaak-----

You seem like a sex lover, so why not?

-----hhhhhhh….blah bleh blaaaaah-----

Gue punya masalah dengan relationship….gue selalu suka dengan perempuan menikah. Entah, tantangan aja. Lagian, posisi gue aman dan dia aman. We were great sex partner. Terakhir gw berhubungan dengan dia 6 bulan lalu. Entah kenapa hari ini dia tiba-tiba hubungi gw lagi. Baru tadi gw bales sms-nya.

-----eeeeee….bas bis buuuusss-----

I do really wanna make love with you, how good are you?

-----aaaa…..eng ing enggggg-----

I’m summa cum laude in sex. Just name it: Japan, Canada, USA, Jerman, France style, etc. You?

-----grrhhhhhh….teng teng teng-----

I believe it if you said you’re summa cum laude, too. I don’t know. From your gesture maybe. So, you’re summa cum laude, damned….

-----huhuyyyyy….bak buk bak buk-----

But sex is communication. I never push people. Kalo lu ga nyaman dengan gw ngomong gini, lu boleh menghindar dan menghilang. Gue dah biasa kok. I just speak up my mind that you’re in my fantasy. Lu bikin gw berfantasi.

-----uhhhhh….ting…ting…tingggg-----

Damned, I wish I met you 4 years ago. Terakhir 4 tahun lalu? Pasti lu disakitin banget ya. Perempuan napa sih suka trautamic begitu? Kalo laki-laki, dia gak traumatic, tapi biasanya dia suka mengganggap YANG TERAKHIR pasti lebih baik dari YANG DIA JALANI SEKARANG. Dan itu suka bikin dia menyesal but he can deal with it.

-----ehmmmm….gedubrak…gedebuggg…blah bleh-----

Lu cantik! Beneran lu cantik, gue suka ama lu. Tapi, kenapa selama ini gw suka sama perempuan-perempuan bersuami ya? Mungkin kalo gw mencoba sama yang single kayak lu, gw bisa menikah. Tapi belum kepikiran ama gw. You really don’t wanna make love with me?

-----krompyangggg….pletakkkkkk-----

Ok, ok…ini terakhir…tipe cowok lu yang gimana?

-----sat setttttttt….sat sat setttttt-----

Hmmm…You’re trembling….. why?

-----(KARENAAAAA...SELAIN) KALO MINUM KOPI KEBANYAKAN GW EMANG TREMBLING… (INI PERTEMUAN PERTAMA!!!!! MENURUT LOEEEEEEEE?????????) WHAT A BRUTALITY BONUS FROM A FRIENDLY FIRST SMILE AND HELLO! -----

Thursday, September 15

TAK BISA LUPA

Bandung-Minggu, 26 Juni 2005 (09:00)

Mengapa ku tak terpana
Saat kau menggenggam dunia

Mengapa ku tak tergoda
Saat kau membuai setiap mata

Mengapa ku tak terhanyut
Saat kau berhias cahaya

Tapi...
Darahku terhenti saat tawamu tak bernada
Sadarku terambil oleh sapamu yang tak tertata
Jiwaku terusik wajahmu yang sederhana
Jantungku melompat melihat mahkotamu yang bukan permata

Mengapa...
Sinarmu benderang saat kau tak sempurna???
Dan aku tak bisa lupa!!!

JERITAN KEPALA

Voor Svaake ;)

Aku berjalan dengan ujung ubanku,
mereka menertawakan...
Aku menggenggam dengan lututku,
mereka menyangsikan...
Aku menendang dengan kelingking tanganku,
mereka senyum tertahan...
Aku memandang dengan nafasku,
mereka tak terkesan...
Aku menasihati dengan debar jantungku,
mereka kian melawan...
Bahkan aku mencinta demi hidup baruku,
mereka tak pernah percaya...

Di atas kuku aku termangu...
Karena aku tak biasa, aku bukan saudara...
Mereka baru membelai, jika aku mau terberai...
Aku kan dipangku, jika jiwaku bisu!!!

Friday, November 19

SUNGGUH

Kala ku menutup mata
Ku memandang dengan nyata

Saat ku kehilangan telinga
Ku mendengar sejelas-jelasnya

Waktu ku berhenti bicara
Ku mengucap beribu kata

Detik ku kehabisan logika
Ku memahami semua

Tepat ku mengosongkan hati
Ku mampu mengasihi

Sungguh...
Semakin tak punya, ku kian bahagia (?)

(Karenanya)
Biarlah jemariku terambil juga
Ku malah memintal sempurna
Tak apa kakiku terpasung dunia
Ku justru bebas berkelana

Sungguh...
Ku bahkan dekat denganmu, tanpa pernah bertemu


(Ya...ku makin mencintai dia,
dari seorang yang bahkan belum mengenalnya)

Monday, October 4

AKAR SERABUT

Bayangkan kau bangun di satu pagi, dan dengan semangat kau langsung bersiap-siap melakukan aktivitas tertentu yang sudah kau rencanakan sebelumnya. Karena semalam kau bermimpi indah, segala yang kau lakukan terasa menyenangkan. Padahal sebelumnya, kau adalah sesorang yang 'susah' bangun pagi. Engkau pun keluar rumah, bertemu dengan banyak orang...yang sering terlihat, yang tidak pernah dilihat, yang dikenal, yang tidak dikenal, yang rupawan, yang tidak rupawan, yang cacat, yang sempurna, yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan. Semuanya. 

Lalu seorang yang tidak pernah kau lihat sebelumnya-tidak rupawan-dan tidak tampak menyenangkan pula, tiba-tiba menyalib jalanmu dengan pongahnya. Kesaaaaallllllllll. Semua kata-kata serapah keluar dari bibirmu, sembari otakmu berusaha mengingat plat nomor kendaraannya. Dan hatimu berkata, seandainya tidak ada yang sedang menunggumu untuk janji hari ini, kau akan mengejar kendaraan itu untuk membuat perhitungan dengannya. Karenanya, kau cukup mengingat bentuk kendaraan itu beserta platnya, dengan tekad akan mencarinya suatu hari nanti. 

Karena sedang tak keruan, kau pun berbelok ke arah jalan yang salah, terjebak kemacetan, terlambat tiba untuk memenuhi janji, dan sebuah rencana besar yang sudah kau susun untuk hari ini, menjadi terasa tidak penting lagi. Dengan emosi, kau berusaha meyakinkan setiap orang jika hari ini adalah hari 'sial' mu, gara-gara seseorang menyebalkan-sangat sial ia dilahirkan di dunia ini-semoga dia mengalami kecelakaan-yang kau temui di jalan tadi. Dan karena itu, kau berharap setiap orang dan bahkan dirimu sendiri akan memaklumimu, jika hari ini kau tidak bisa memberikan yang terbaik.

******

Bayangkan kau bangun di satu pagi, dan dengan semangat kau langsung bersiap-siap melakukan aktivitas tertentu yang sudah kau rencanakan sebelumnya. Karena semalam kau bermimpi indah, segala yang kau lakukan terasa menyenangkan. Padahal sebelumnya, kau adalah sesorang yang 'susah' bangun pagi. Engkau pun keluar rumah, bertemu dengan banyak orang...yang sering terlihat, yang tidak pernah dilihat, yang dikenal, yang tidak dikenal, yang rupawan, yang tidak rupawan, yang cacat, yang sempurna, yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan. Semuanya. 

Lalu seorang yang tidak pernah kau lihat sebelumnya-tidak rupawan-dan tidak tampak menyenangkan pula, tiba-tiba menyalib jalanmu dengan pongahnya. Kesaaaaallllllllll. Kau menarik nafas dalam-dalam lalu berpikir keras-haruskah ku marah?-Karena aku harus menjaga mood untuk negosiasi proyek-dan aku tak mau rencana masa depan gagal cuma karena orang-orang bodoh yang berkeliaran di jalan raya. Kau terus berusaha untuk tidak marah. Tapi semua kejadian tadi jelas-jelas menunjukkan kebodohan orang tak tahu aturan tersebut. Hal itu harusnya tidak terjadi kalau saja dia tidak benar-benar bodoh. Bodoh...bodoh...bodoh...ada berapa banyak lagi sih orang bodoh di dunia ini???? 

Karena sedang tak keruan, kau pun berbelok ke arah jalan yang salah, terjebak kemacetan, terlambat tiba untuk memenuhi janji, dan sebuah rencana besar yang sudah kau susun untuk hari ini, menjadi terasa tidak penting lagi. Dengan emosi, kau berusaha meyakinkan setiap orang jika hari ini adalah hari 'sial' mu, gara-gara seseorang menyebalkan-sangat sial ia dilahirkan di dunia ini-semoga dia mengalami kecelakaan-yang kau temui di jalan tadi. Dan karena itu, kau berharap setiap orang dan bahkan dirimu sendiri akan memaklumimu, jika hari ini kau tidak bisa memberikan yang terbaik.

******

Bayangkan kau bangun di satu pagi, dan dengan semangat kau langsung bersiap-siap melakukan aktivitas tertentu yang sudah kau rencanakan sebelumnya. Karena semalam kau bermimpi indah, segala yang kau lakukan terasa menyenangkan. Padahal sebelumnya, kau adalah sesorang yang 'susah' bangun pagi. Engkau pun keluar rumah, bertemu dengan banyak orang...yang sering terlihat, yang tidak pernah dilihat, yang dikenal, yang tidak dikenal, yang rupawan, yang tidak rupawan, yang cacat, yang sempurna, yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan. Semuanya. 

Lalu seorang yang tidak pernah kau lihat sebelumnya-tidak rupawan-dan tidak tampak menyenangkan pula, tiba-tiba menyalib jalanmu dengan pongahnya. Kesaaaaallllllllll. Kau tak habis pikir, bagaimana seandainya kau bukanlah seorang yang jago menyetir, pasti berantakan semua rencana hari ini. Dan semua itu berkat kegigihanmu dulu untuk belajar bisa menyetir dengan benar, cerdik, dan bahkan terlihat elegan. Hmmm, sepertinya orang yang sembrono di jalan raya itu tidak sendirian. Karenanya, terlalu percuma energi ini dihabiskan untuk marah untuk seseorang yang 'tidak penting', pikirmu. Bahkan akhirnya kau memberi kesempatan pada penyeberang jalan lebih banyak hari ini daripada hari-hari sebelumnya. Sambil memberikan senyum pula. Sampai akhirnya, seorang yang sempurna-rupawan-terlihat menyenangkan-menyeberang jalan tepat di depan kendaraanmu setelah kau beri kesempatan. Kau tercekat. Dia seperti pernah kau lihat sebelumnya. Ya....dia....orang....yang selama ini hilang dari matamu....tapi tak pernah bisa hilang dari hatimu...jiwamu selama ini mencari sosoknya-wanginya-bayangannya-atau apapun dari dirinya ke manapun kau melangkah...kau pikir dia takkan pernah kau temukan lagi...dan kau putuskan untuk bisa melangkah sendiri...dan janji pada seseorang hari ini yang akan kau penuhi adalah titik awal langkah baru yang ingin kau tapaki...tapi kini...'DIA ada di depanmu'...tanpa sedetik pun dari waktu di pagi ini kau terpikirkan lagi tentang dirinya...kau pikir kau sudah menang...tapi...????

Karena sedang tak keruan, kau pun berbelok ke arah jalan yang salah, terjebak kemacetan, terlambat tiba untuk memenuhi janji, dan sebuah rencana besar yang sudah kau susun untuk aktivitas penting hari ini, menjadi terasa tidak penting lagi. Mungkin masih penting, tapi kau sudah tak bisa berkonsentrasi. Dengan gamang, kau berusaha meyakinkan diri apakah hari ini adalah hari 'sial' atau hari keberuntunganmu.

******

Bayangkan kau bangun di satu pagi, dan dengan semangat kau langsung bersiap-siap melakukan aktivitas tertentu yang sudah kau rencanakan sebelumnya. Karena semalam kau bermimpi indah, segala yang kau lakukan terasa menyenangkan. Padahal sebelumnya, kau adalah sesorang yang 'susah' bangun pagi. Engkau pun keluar rumah, bertemu dengan banyak orang...yang sering terlihat, yang tidak pernah dilihat, yang dikenal, yang tidak dikenal, yang rupawan, yang tidak rupawan, yang cacat, yang sempurna, yang menyenangkan, yang tidak menyenangkan. Semuanya. 

Lalu seorang yang tidak pernah kau lihat sebelumnya-tidak rupawan-dan tidak tampak menyenangkan pula, tiba-tiba menyalib jalanmu dengan pongahnya. Kesaaaaallllllllll. Lalu???????

******

Kau bahkan memiliki skenario sendiri...........
Pernah terpikirkah olehmu?

Mungkin benar ada kehidupan lain yang berjalan paralel dengan apa yang kita jalani sekarang-setting lokasi dan waktu yang sama-tapi berbeda cerita hanya karena sikap dan pilihan yang berbeda, mungkin juga tidak.
Mungkin benar akan tercipta mesin waktu untuk kembali ke masa lalu untuk 'memperbaiki'-ke masa depan untuk 'mempersiapkan' atau sekedar untuk alasan ketidaksabaran, mungkin juga tidak.

Aku lebih suka mengatakan hidup itu "AKAR SERABUT". Hanya saja menghadap ke langit, bukannya tertanam menuju ke bawah tanah. Setiap cabangnya adalah tetap serabut, yang kian bertambah setiap kali umur juga bertambah. Karenanya, di cabang manapun akan memberikan 'setting' yang sama, hanya berisi sedikit 'variasi', yang sebagian dari kita menyebutnya cobaan, sebagian lagi senang memakai istilah hukuman, ada pula yang menganggapnya nasib. Tapi aku lebih senang memanggil 'variasi' itu sebagai 'konsekwensi pilihan', yang sudah ditentukan sebelum dunia dilahirkan. Aku hanya diberitahu kapan mulai mendaki-bukan menuruni serabut, apa yang kupunya untuk memangkas sedikit cabang tertentu, tanpa dibisikkan sedikitpun di mana dan bilakah waktuku habis lalu aku akan ditarik angkasa.

Karenanya...
Aku tak ingin mengeluh, berharap akar serabut kan menjadi bunga dengan sendirinya...
Aku tak ingin sumpah serapah berjejal, berontak agar ia menjadi akar tunggal...
Tapi...
Bertekad memilih salah satu cabangnya...
Meski 'tuk mengubah setting tersebut, aku tak kuasa...
KUTAHU pasti, aku bisa MENGUBAH CERITA!!!
Kau juga??? ;))

Thursday, September 16

LEGENDA SANG NAGA

Rabu, 15 Sept.2004

Sang naga…
Pernahkah kau bertemu dengannya?

Ia bukan teman tapi selalu mendekati
Karena tahu kan binasa tapi tak ingin sendiri

Ia menawarkan bara
Menyerupai gula
Hatinya mengoyakkan cinta
Bersampulkan desis setia

Ia membayangimu dalam setiap mimpi
Karena tahu kau ingin menggapai tanpa harus mendaki

Ia tertawa kala kau jatuh
Tapi tunjukkan wajah tersentuh
Ia menari waktu kau tak sembuh
Lalu melebarkan luka bertopeng teduh

Aku pernah terjerat tapi tak ingin tersekap
Jagad raya melolong dan Ayah menarikku dalam dekap

Ia menghujat dalam kelam
Menanti saat tepat tuk penuhi dendam
Kini ku hanya menatap dari jendela
Mengagumi caranya perdayai manusia

AYAH…AKU…

Rabu, 15 Sept. 2004

Aku bernafas
Tapi aku haus
Apakah yang kuhirup ini?

Aku minum
Tapi aku lapar
Apakah yang kucecap ini?

Aku makan
tapi aku sesak nafas
Apakah yang kugigit ini?

Aku berjalan
Tapi aku duduk
Apakah yang aku tapaki ini?

Aku memegang
Tapi aku terbang
Apakah yang kuraih ini?

Aku pulang
Tapi aku tak pernah kembali
Apakah yang kupunya ini?

Aku bercinta
Tapi aku menjauh
Apakah yang kuberi?

Aku…
Hmmm….
Tak pernah…(puas)

Aku dambakan….(hidup)

Hmmm…?
Jadi aku harus….(kembali?)
Masih bolehkah?

Terima kasih Ayah!!!

ADUH...!!!

Senin, 13 Sept.2004

Tak ku dengar celoteh telapak tanganku
Yang tak putus bilang……(kataku: ah, masa?)

Tak kuindahkan senyum sang kartu
Yang isyaratkan….(kataku: ohh, ya?)

Aku tak mau berteman dengan bola kaca
Yang bilang ku kan temui….(kataku: ya, lalu?)

Aku tak akan percaya pada tata surya
Yang bilang kuhadirkan bersama….(kataku: hmm, begitu?)

Di saat aku mulai menggerutu
Bayangmu melintas…laju!

Di saat aku makin tak peduli
Dongeng mereka menjelma... di dalammu!!!!

Aduhh…!!!

SATU

9 Maret 2004-03.00
Voor Punky n Dino

Kau di ladang
Aku di padang
Tatap 1 mentari di 1 petang

Kau di hutan
Aku di lautan
Lukis 1 wajah pada 1 rembulan

Kau arungi langit
Aku jelajahi bukit
Berdetak 1 ritme dalam 1 dunia sempit

Karenanya…

Ku tak goyah di tiap hentak
Kau tak gentar di tiap sentak

Ku yakin kau kan datang
Kau tahu ku kan menjelang

Monday, September 13

MY WOMAN, CAN WE SKIP DATING???

(WHAT A NIGHT!!!)

Virgie
06/09/04 20:45
How’s life? Eh mo gw knalin ama anak advertising gak? Orgnya seru…suka party…dia blh nelp lu gak? Dia mau ke Bdg Jumat ini, ok?

Karin
06/09/04 20:46
Hah? Loe sinting ya..siapa tuh?tmn loe?loenya pkbr?

Virgie
06/09/04 20:49
Namanya Jimmy Abimalao....udah deh pokoknya ntar dia nelp lu mlm ini, blh kan?

Reply
Hah?gila lu ya..itu tuh siapaaaa??? Dia…

Ah, kayaknya percuma deh mengirimkan sms. Aku batalkan mengetik sms berikutnya. Virgie bener-bener sinting. Nggak capek ya dia selalu berusaha menjadi mak comblang yang baik. Berkali-kali dia mengenalkan aku dengan ini, sama itu, sepupunya ini, kakak tingkatnya itu, wah! Dan yang paling gila, dia pernah berusaha menjodohkan aku dengan mantannya, yang menurutnya ‘Karin banget’ dan pasti akan lebih cocok menjadi pacarku. Sinting! Aku pikir kepindahannya dari Bandung ke Jakarta bakal menghentikan semua usaha ‘tolol’-nya itu. Aku tidak suka di ‘comblangi’. Bukan karena merasa sok laku. Tapi bukankah lebih menarik jika kita menemukan ‘orang yang tepat’ lewat berbagai pengalaman hidup kita? Satu bulan ini terasa cukup tenang tanpa ‘kegiatan regular’ Virgie. Tapi, sebenarnya kangen juga sih ama Jiji, panggilan sobatku yang kukenal lewat bekerja di salahsatu radio anak muda Bandung semasa kuliah, lalu semenjak lulus aku pindah kerja ke redaksi majalah ini, dan dia yang tadinya sempet di redaksi majalah lain di Bandung sekarang pindah kerja lagi ke Jakarta. Memangnya, kantor barunya di Bona Advertising itu membuat dia menemukan korban-korban baru yang potensial untuk dijodohkan denganku??? Mungkin lebih baik aku menelponnya saja, ya.

“Hei Jiji…loe sinting yah…apaan sihh…”

“Ha..ha..ha..udah deh say…orangnya ada disebelah gw niiii….ntar dia telpon lu yah…ok? ok?” jawabnya cepat sebelum aku sempat menyelesaikan opening-ku. Dari cara tertawanya sih aku menangkap gelagat iseng totalllll.

“Heehh…gw kan kangen ama loe? Lagi ngapain loe, kok ‘ujug-ujug’ (tiba-tiba aja tanpa alasan yang jelas) mo ngejodohin gw ama orang sekantor loe??? Dia itu temen loe, ato siapa sih? Aduhh loe tuh ya…”

“Cintaaaaa, nggak enak nih klo ngobrol tentang orangnya, sementara dia disebelah gw nih yaaa…” katanya centil sambil tertawa-tawa. “Gw masih training, nih. Bentar lagi pulang. Dan lu tunggu aja ntar dia telpon, ya! Gw juga banyak cerita nih...tapi ntar deh kita ngobrolnya. Ngobrol ama dia aja dulu yaaaa….daaaaaahhhh!”

“ Ji…”

Klik.

Hah??? Sakit jiwaaaaaa. Telpon udah diputus dari seberang. Jijiiiiiiiiiiiiiiiieeeeeee!!!! Aku mulai geram. Ok, mungkin kita lihat aja nanti. Model laki-laki seperti apa lagi yang mau dia kenalkan malam ini. Aku buka lagi message yang menyebutkan nama temen kantornya itu. Hmmm, Jimmy Abimalao. Not a bad name. Tapi menggambarkan orang mana, ya? Dari sebuah survey, seseorang akan tergolong sebagai orang Indonesia tulen apabila mereka sangat tertarik untuk selalu tahu tentang kesukuan, agama, pekerjaan, gaji, dan terakhir status perkawinan dari orang lain. Wah….aku termasuk ya?

Ringer tone Friends berbunyi dari HPku. “Halo..?”

“Hai, gw Jimmy. Gw temennya Virgie yang dia bilang tadi mo telpon. Ini Karin kan? Eh, gw mo jalan ke Bdg jumat ini!” Hmm, suara yang bagus pikirku. Tapi aku tidak cukup gila untuk menemani jalan orang yang tidak dikenal. Don’t talk to strangers, ya kan? Tapi karena Indonesia cukup ramah, mungkin lebih pas kalo Don’t walk with strangers, hehe. Buktinya aku sudah mulai ngobrol dengan orang asing ini.

“Iya, ini Karin. Eh, temen satu kantor Virgie, ya??? Virgie tuh sinting ya…,” aku berusaha tidak terdengar kaku.

“Jangan bilang Virgie yang sinting, deh. Gw kali yang sinting, hehehe… Mmm, nggak…tadi iseng si Virgie nunjuk-nunjukin foto di Hp-nya. Trus ada foto dia bareng lu lagi pake baju biru. Trus dia bilang-mo dikenalin nggak?anaknya seru lho dan dia seagama ama loe tuh-gitu…”

Heehh? Pake baju biru? Baju biru gw yang mana ya? Kapan itu gw foto-foto bareng Virgie dengan Hp-nya? Aku berusaha mengingat mati-matian. Dan jadi teringat juga dengan kalimat terakhir….apa tadi? seagama?

“Iya…kalo dia nggak bilang loe seagama ama gw, gw juga ngga akan telpon kali..” lanjutnya seolah-oalh tahu isi pikiranku.

“Wah…kok cara pilih-pilih temennya gitu sih…gila loe!!!” kataku masih berusaha santai dan mencari-cari topik apa yang bisa membuat obrolan ini bakal menarik. Soalnya, kok berasa jadi SARA gini sih obrolannya.

“Justru itu, gw nggak cari temen. Temen gw banyak kok. Satu gedung kantor yang berlantai 20 ini hampir gw kenal semua, hehe. Belum lagi dari kantor advertising lain. Gw juga banyak kenal anak-anak radio, majalah, TV di Jakarta. Tapi temen gw dari segala kalangan kok…A ampe Z. Yang statusnya ‘tidak terdengar’ juga banyak, hehe,” katanya bertubi-tubi. Tapi anehnya, bisa terdengar tidak sombong. Karena itu, bisa jadi dia memang punya banyak teman. Super pede begini. Aku akui dia cukup ramah, dan sebenarnya mungkin agak…sakit jiwa. Orang-orang sakit jiwa dengan berbalut kepribadian super pede kan memang lebih gampang dapat kenalan. Mereka gampang populer. Karena suka tidak suka, otak kita akan lebih gampang mengingat mereka. Dan suka tidak suka, kita akan menjadi terbiasa dan akhirnya merasa ada dalam lingkaran hidup mereka sebagai teman. Atau hanya orang-orang sakit jiwa itu yang merasa kita teman mereka, ya? Dan kita ikut terinfeksi dengan jadi merasakan hal yang sama?

“Wahh…yang anak gaul! Hueheuheue,” kataku berusaha menimpali. Sebenarnya masih bingung mau ngobrol apa, karena konsentrasi gw sempet terganggu dengan kalimat pertama-nggak cari temen???

“Nggak…bukan gaul. Gw ngga berasa anak gaul. Gw cuma suka berteman, dengan siapa aja. Dan gw ngerasa temen gw dah banyak banget. Sampe gw ngga hapal semua namanya. Nah, masalahnya adalah gw cari pacar, hehe,” katanya tanpa basa-basi.

“Haaah???Sinting!!!!” kata gw jadi salah tingkah sendiri. Ya ampun ini orang, pikirku.

“So..gw mo nanya. Bener ngga kata Virgie, loe masih single? Kan sebagai mantan jurnalis, gw harus cross check, dong hehehee. Dulu gw sempet di majalah Waktu. Fotografer. Gw suka foto. Jangan bilang loe suka difoto.”

“Ih…gw ngga gitu suka difoto. Soalnya dah tau lahir batin kalo ngga fotogenic…dan ngga berharap jadi fotogenic. Banyak orang yang katanya ngerasa klo ngeliat cewek cantik di foto, sering aslinya ternyata biasa aja. So, daripada difoto, mending orang liat gw aslinya deh. Gw s-a-n-g-a-t lebih cantik aslinya…heuheuheuehuehue…” kataku berusaha berkelit sambil bercanda. Padahal, cita-cita tuuuh mau difoto satu rol penuh sama Kingkong, salahsatu dari sekian banyak temen yang hobi fotografi, tapi satu-satunya yang pernah bilang aku terlihat bagus untuk difoto alias fotogenic, hanya agar aku bisa merasa lebih ‘pede’ di depan kamera, hehe. Dan dengan bercanda seperti tadi, aku berharap Jimmy akan lupa dengan pertanyaan awalnya. Tapi…

“Eh..jadi gimana? Jomblo kan? Jomblo kan?” tanyanya penuh selidik…atau…berharap??? Oh!!!

“Dasar…masih inget tho ama pertanyaannya. Iya sih, jomblo. So, what is so wrong being jomblo? Gw lagi menikmati masa-masa ini, kok. Virgie nggak bilang apa gw bahagia ama kejombloan gw sekarang? Dasar si Virgie. Emang dia bilang apa lagi tentang gw?” tanyaku sedikit penasaran tapi sebenernya mulai kesal membayangkan promosi Virgie yang selalu berlebihan pada orang-orang yang dianggapnya potensial untuk di comblangi denganku. Tapi satu hal yang selalu jadi senjata pamungkas sobat kecil mungil bergaya rambut cepak dan modis itu, yaitu satu agama!!!!!! Dan hebatnya, itu selalu berhasil membuat daftar korbannya bertambah. Tunggu, mungkin bukan mereka korbannya. Tapi aku!!! Ya, aku. Karena aku yang menjadi kelimpungan sendiri berkelit sana-sini setelah ‘orang-orang’ itu menjadi ‘semakin ganggu’.

“Great! Biasa kalo party dimana nih? Hehe”

“Siapa yang suka ke party? Idih, emang Virgie ngomong gitu? Gila tuh Virgie”

“Yaelahh…udah deh. Gak usah ja’im. Napa sih cewek-cewek suka sok alim kalo pertama kali kenalan. Pengen keliatan cewek baek-baek banget. Gw malah suka cewek yang eksperif, pake piercing and tattoo sekalian biar unik. Trus apa salahnya dengan party? Kriminal??? Amoral??? Kalo capek ama kerjaan kan wajar kita butuh refreshing, ngumpul ma temen-temen, nge-dance, minum dikit…that’s all. Lagian, orang-orang laen aja kali yang suka berlebihan. Padahal kan party buat gw sama aja kayak hang out di café? Bedanya, musiknya lebih kenceng dan untuk itu loe bisa nge-dance ampe bego. Ngga lucu kan kita ngedance di Starbucks sore-sore, ngga pake ‘musik’ lagi ??? Heuheuheue Denger2 situ party animal. Udah buruan, party mana nih, mana nih???heheheh”

“Sinting loe…Emang sih ga ada yang salah ama party. Tergantung orangnya masing-masing. Tapi sumpah gw ga gila party. Virgie tuh yang gila party. Seringan dia kali daripada gw. Dan cuma gw lakuin kalo ada acara special ato lagi pengen banget. Nggak regular di club tertentu.”

Huh, bukannya sudah ngga jaman deh hari gini gila party? Kecuali yang baru ‘mulai’ mungkin? Itupun jika ‘gila’ disini maksudnya adalah sering, ya. Kalo ada party jadi gila-gilaan, nah itu yang bener buatku, heuheueheu. Dan memang tidak pernah ada yg salah dengan party. Karena bagiku, ‘gila-gilan’ itu juga ya cuma sekedar dance gila-gilaan, heboh-hebohan, rame-ramean, dengan segelintir temen-temen baik yang sudah sangat aku kenal dan mereka juga menyenangi dunia ini sebagai refreshing sesekali. Acara ‘minum’ juga selalu kami lakukan secara ‘langsung umum bebas dan terkendali’ TANPA TERTARIK untuk menyentuh obat terlarang ataupun untuk menanggapi pria-pria sok charming yang senang tebar pesona di setiap party, berharap ada seorang perempuan mabuk yang bisa dimanfaatkan. Trus, tadi dia menyebutkan tentang piercing? Yak, itu aku punya satu di hidung kanan, sempet kepikiran nambah, tapi mungkin setelah aku tahu pasti dunia pekerjaan yang akan kucintai seumur hidup (yang masih dalam tahap pencarian-bukan berarti aku tidak menyenangi pekerjaan yang sekarang-tapi, entahlah!) memang tidak mempermasalahkannya dulu. Tidak semua kantor menerima kan? Tattoo? Another ‘cita-cita’, hehe. Tapi karena lumayan mahal jadi ketunda-tunda, deh. Lagipula aku belum menemukan tempat yang benar-benar aman dan meyakinkan, untuk melakukannya. Aku kepingin satu di tengkuk dan satu dekat mata kaki, hehe. By the way, siapa sih orang sakit jiwa ini…omongannya cukup ‘menembak’ ku. Sebanyak apakah informasi yang dia dapatkan dari Virgie tentangku, sebagai usaha untuk bisa membuat aku merasa ‘click’ dengannya? Memang tidak ada satupun bagian dari hidup dan keinginanku dalam hidup ini yang tidak kuceritakan ke Virgie.

“Oh..ok,” jawabnya singkat menanggapi jawabanku soal party sambil terdengar seperti berpikir untuk pertanyaan selanjutnya. Lalu, ”Ngomong-ngomong kalo gereja, ke gereja mana?”

“Mana aja, tergantung mood. Emang loe dimana?” jawabku sekenanya dan bertanya balik. Lagian, dari party nyambungnya ke hal-hal religius kayak gini??? Bener-bener sinting nih orang.

“Bagusan loe dong daripada gw. Sebenernya gw di Bethel, tapi hampir ngga pernah pergi, hehe. Eh, gw orang Ambon…kalo loe liat di Friendster, bakal keliatan kok hehe. Wah, jangan ngebayangin gw ganteng deh. Gw jauh dari ganteng. Tinggi gw juga cuma 165, hehe.”

“Lagian siapa yang ngebayangin loe ganteng? Dari suara loe juga kedengeran kok kalo loe biasa banget hauhauauahuahua….” Kata gw semakin berani untuk ceplas-ceplos, karena semakin jelas juga kalo dia tipe yang tidak mengenal basa-basi. Atau tidak sopan ya, sebenarnya? Padahal, berikutnya aku tahu jika dia terkagum-kagum dengan budaya Jawa yang terkenal santun. Aneh.

“Huahuahau….loe gila juga anaknya. Seru. Gw suka. Tapi biar Ambon tulen, gw numpang lahir di Sukabumi dan idup dari kecil di Jakarta, en justru suka banget sama Bali dan Jogja, lho. Tanya dong kenapa? Karena Bali itu indah banget, gw seneng pantai. Berjemur, biar tambah item. Gw ngerasa belum item-item amat buat ukuran Ambon sih heuheuhue meskipun semua temen-temen gw bilang gw item, gw sama sekali tidak percaya hauhauhauhaua Sedangkan Jogja….gw kagum banget sama budaya Jawa. Kata gw, Jogja itu centralnya kebudayaan Jawa.”

“Gilingan, dasar!! Gak ada yg tanya kenapa, lagian. Jadi situ masih ngerasa putih? Putih Tua, ya neek? Heuheuheu Jadi loe Ambon asli? Dari bonyok, ya? Bisa ngomong Ambon?”

“Bukaaan…Item muda! Iya deh, boleh juga putih tua. Huahauhau Iya, bonyok Ambon dua-duanya. Tapi gw ngga bisa bahasa Ambon. Kalo bonyok ngobrolnya cepet, nggak ngerti deh. Huehueheu Terakhir gw ke Ambon tuh waktu meliput….bla…bla…bla…” Orang gilaaaaaa. Gw udah tau separuh idupnya dalam setengah jam ngobrol lewat telpon Jakarta-Bandung, yang hebatnya….belum pernah ketemu.
· Dia lahir 26 April setahun lebih muda dariku, but somehow he sounds wiser than me.
· Anak ketiga dari 4 bersaudara.
· Suka party (banget!!!).
· Suka traveling.
· Hardworking dalam setiap pekerjaan yang dia geluti meskipun senang berpindah-pindah. Tapi itu sekedar karena dia mengaku sebagai seorang adventurer sejati, mencari pengalaman yang lebih menantang setelah berhasil menguasai satu bidang.
· Sudah bekerja di Bona Advertising selama 2 tahun tapi mengaku hampir tidak pernah melihat hasil karyanya sendiri muncul berupa commercial break yang kadang mengganggu acara-acara bagus di televisi karena lebih suka menonton DVD, terutama film perang karena dia pecinta segala sesuatu yang berbau perang. Karenanya…
· Kepingin bisa menjadi wartawan perang.
· Nge-fans berat sama Iwan Fals karena selain ganteng dan kharismatik, menurutnya lagu-lagu dari penyanyi yang sempet bikin heboh dengan ‘Bento’-nya itu menyuarakan hati rakyat kecil (dan memang beberapa lagu Iwan Fals menjadi backsound obrolan kami)
· Insomnia sejati juga persis sepertiku….

Tiba-tiba saja bulu kudukku merinding, karena merasakan satu hal aneh. Tiba-tiba saja aku merasa bukan ngobrol dengan orang yang baru kukenal. Bukan karena semua kalimatnya yang terdengar “soooo me” yang menurutku bisa saja dia usahakan setengah mati itu. Toh, orang jenis ini beserta seluruh pengalamannya juga termasuk baru buatku. Tapi memang tiba-tiba saja dia terasa seperti seorang temen lama. Bahkan tidak sekedar temen lama melainkan sahabat yang sudah lama tidak pernah berhubungan lagi, yang tiba-tiba kembali dengan menceritakan sejuta pengalaman barunya selama menghilang dariku. It’s totally insane!!!!

“Jadi gituuu ceritanya…heuhueheu. Ayo dong tanya-tanya lagi tentang gw. Loe mau tau apa lagi tentang gw? Apa aja, semuanya! Tapi gw bingung nih klo disuruh ceritain sendiri…”

“Hahhhh???? Hellowww, gw udah tau separuh idup loe karena loe nyerocos sendiri dari tadi. Cerewet, sumpah!!! Tanda-tanda jaman deh ini kayaknya, ga ada angin ga ada badai, tiba-tiba ada orang sesakit jiwa loe nelpon-nelpon jam segini, bikin gw gak bisa nonton Extravaganza. Kan mo liat Tora Sudiro, tau!!!!” Kataku setengah ngga percaya dengan intonasi innocent dalam kalimat terakhirnya dan setengah kesel mengingat aku hanya bisa memandang salah satu acara kesukaanku itu tanpa mengerti semua parodi yang dimainkan dalam acara itu karena tv-ku yang di mute. Meskipun kadang-kadang suka ‘garing’, ya tapi biasanya acara itu cukup bisa menghibur hari Senin malam. Senin adalah hari yang cukup menyebalkan, bukan? Namun harus kuakui, percakapan ini menyenangkan juga.

“Eh iya, ya….gw cerewet ya heuheuheu. Maap deehhh….Tapi gw tebus deh kesalahan gw dengan ngundang loe nonton Extravaganza, live!!!! Produsernya dan banyak kru Trans TV temen-temen gw juga kok, gimana…mau ya?”

“Giling…ngga segitunya kok ama Extravaganza. Ngga perlu, thanks anyway!!!”

“Eh…ummm…would you be my woman?” tembaknya langsung dengan ‘cuek’.

Aduhh, ini Ambon…Jawa…Betawi…apa Batak siiii? “Haaahhh????” seperti biasa aku selalu cuma bisa terperangah.

“Don’t know…I just feel so close to you, hehe. Ngerasain juga gak? Gw kok seperti berasa udah kenal lama ya, ngobrol ama loe. Gimana kalo ternyata loe jodoh gw??? Maaaan….gimana yah kalo emang begitu. Gila yah, loe cewek gw, hihi. Gw ngabayanginnya pasti seru banget, loe cerewet en ‘ancur’ juga sih. Pasti seru banget. Oh…my...God, gw ngerasa…click ama loe. Really, I wanna know you more,” tambahnya lagi semakin menggila dan membabi buta. Yeah…whatever. Sumpah, aku tak habis pikir dengan orang ini. Aduuhh, tapi…kok dia seperti merasakan yang aku rasakan sihhhh???? Apa ini lagi-lagi taktik dia saja?

“Hmmm…honestly, gw juga ngerasain kayak ngobrol ama temen lama kok, hehe” kataku tidak menutupi. Tepatnya, berusaha tanpa basa-basi juga. Dan aku belum selesai, “Tapi jodoh??? Hiiih…ga sejauh itu yaa??? Gila apa? Blom pernah ketemu loe…nggak ada bayangan apapun gimana sosok loe…gilingan, tau!!! Kalo bukan karena Jijie sobat gw, nggak akan gw ngobrol ama loe!!!”

“Heehh, knapa nggak? Feeling gw kuat gini, kok??? Jijie kan perantara doang. Lagian coba bayangin. Kok bisa, dia tiba-tiba nunjukkin foto-foto loe di Hp-nya??? It’s a sign, isn’t it??? Eh iya, ada friendster? Mumpung gw depan komputer, nih” katanya dengan seribu keyakinan yang membuat aku mulai jengah. Obrolannya juga lompat sana lompat sini. Duhh!!!

“Cari aja di friendslist Jijie,” ujarku singkat.

“Ngga ahhh…lama!!! Email loe deh, buru!” katanya tidak sabar dan….’main perintah’ ????Aku paling tidak suka diperintah. Taureans, remember? Untungnya, dia terdengar menyenangkan untuk menjadi temen ngobrol yang memberikan aku pengalaman ‘gila’ seumur hidup pada malam ini. Jadi kuberikan saja alamat emailku. Tidak ada ruginya, kok.

“Hmmm…tau nggak gw suka foto loe yang mana? Hehe, semua sih. Gw suka liat loe…chubby!!! Hmmm, loe fashion editor??? Ok. Loe suka Maksim??? Wah, pasti loe cocok banget temenan ama copy writer gw. Dia tau semua tentang Maksim,” dia mulai membuka profile-ku sembari membacanya dan memberi tanggapannya satu persatu .

“Ya ampun, temen loe punya partitur Maksim????” potongku cepat karena memang suka sekali dengan permainan pianist asal Kroasia yang kabarnya tetap giat berlatih di tengah perang itu. Sementara aku dulu susah sekali disuruh papa berangkat kursus, padahal ditengah-tengah kehidupan negara yang pada umurku saat itu ku tahu aman dan damai. Aku baru tahu istilah yang dianggap tepat untuk suasana pada masa pemerintahan itu adalah Represif, setelah kuliah.

“Wah, itu sih ngga tau. Ntar deh gw kenalin. Makan tuh Maksim bedua, hehe. Ohh..loe maen piano juga. Jangan bilang loe blom nonton The Pianist…”

“Emang belom.”

“Hwaaaa…loe bakal gw kunci dan gw tinggal sendirian di kos gw biar nonton The Pianist heuhuheu. Hmmm, loe suka Jazz? Ok. Finding Nemo? Lucu banget ya si Dori. Tapi gw paling suka Ice Age!!!

“Gw juga tergila-gila ama Dori, gw bangettt dengan Short Memory Syndrom gw buat mengingat nama orang padahal baru beberapa menit kenalan, ha..ha..ha..Tapi kok gw masih inget nama loe ya, Jim? Kalo Ice Aged, gw suka si tupai bodoh itu. Mukanya kocak bangetttt….dan ga kebayang deh semua peristiwa penting jaman prasejarah kejadian gara-gara dia doang, ha..ha..ha..” ujarku senang mengingat tingkah dua dari sekian banyak tokoh film kartun favoritku.

“Heuheuheu…ok…cool…lumayan…Fakultas Hura-hura? Hehe. I’m everything you’re not? Huahuahau seru juga. Hmmm…profile yang bagus,” katanya meneruskan berkomentar sendiri menelusuri berbagai hal tidak serius yang kutulis di profileku. Dan ia melanjutkan terus, “Sekarang coba kita liat testimonial-nyaaa??? hmmm…ok….yak…oya…ohhh.”

“Wah, gw berasa ngga adil, niih. Loe sekarang bisa tau semuanya tentang gw lewat friendster dan ngobrol ini. Sementara gw ngga ada bayangan sama sekali sosok loe gimana?” selaku setengah kesal juga.

“Tenang…gw add loe. Ntar besok loe buka punya gw. Ehh…ternyata gw ngga bisa nge-add loe nih. Gw kirim message dulu aja kasih imel gw…loe add gw, yakkk! Dan sini gw bacain aja deh punya gw,” ia menjawab lalu dengan panjang lebar mulai membacakan satu persatu isi profile dan testimonial miliknya, yang menurutnya perlu untuk kuketahui. Aku mendengarkan saja, sambil sesekali mengikuti gayanya berkomentar, seperti: ohhh….ok…cool…ok…seru juga…yak…ok…oya…dan bla bla bla.

“So….what d’ya think? What d’ya think??” tanyanya cepat setelah merasa cukup membacakan ‘daftar riwayat hidup singkat’ –nya lewat web yang digila-gilai semua orang itu. Dan aku juga jadi menyadari kalau dia senang sekali mengulang kalimat. Terutama jika merasa penasaran.

“Hm? What I think? I think you’re crazy, hah heh hah!!??” komentarku dengan aksen Singlish bercampur gaya bicara Dori. Becanda. But somehow, I mean it. Seperti biasanya aku.

“Huhauahuahua jangan gitu dooong…,” katanya setengah memelas. “Maaannn…I think I like you a lot. Jangan sampe gw jadi bilang gw sayang loe. Dan terakhir, gw cinta ma loe. Gila sih membayangkan loe bakal bener-bener be my woman.”

“Heh, dasar emang situ tuh orang gilaaaaa, ya! Jauh-jauh amat ngayalnya??? Ngobrol normal, napa?” kataku sambil tertawa-tawa saja, tapi mulai semakin jengah.

“Bentar bentar. Kok orang seperti loe masih jomblo? Jangan-jangan loe standarnya ketinggian ya?”

“Seperti gw? Seperti apa emang? Kok ga to the point aja bilang gw keren banget???Huahauhauhau Ketinggian? Nggak, ah. Dibilangin lagi menikmati masa jomblo, kok. Soalnya banyak banget yang masih pengen gw lakuin. Kadang-kadang, punya pacar itu bisa menghambat juga. Bisa jadi dia yang ngelarang-larang atau kitanya yang jadi nggak tega. Buat apa pacaran klo ngga bisa saling support. Ya gak? Kadang-kadang karena saling support pun, malah untuk itu harus rela pisah. Wah, pusing deh kalo udah gitu,” jawabku panjang lebar setengah benar, setengah tidak. Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya pun mulai bergulir. Kujawab jujur tanpa basa-basi lagi. Udah jomblo berapa lama? Tipe cowok yang loe suka? Apa yang loe cari dari cowok? Masalah nggak pacaran ama yang lebih muda setaun? Bisa pacaran long distance? Masalah ngga klo gw Ambon?? Maaakkk!!!!

“Ok…jadi mau pake adat apa? Hehe”

“Hahhhh??? Adat apa? Buat apa???” aku kebingungan. Semuanya serba cepattttt. Seringkali aku belum sempat berpikir tentang satu hal, beribu hal lain sudah keluar dari mulutnya.

“Ya apa lagi? Married dong? Hauhauahuahuahauhauahua,” katanya bener-bener mulai sinting.

“Busyeeeettttt. Orang gilaaaaaa. Eh, pacaran aja lagi males udah mo pikir kawinnnnnnn????? Eh loe tau kan gw orang apa?” kataku sembari s-a-n-g-a-t t-i-d-a-k p-e-r-c-a-y-a akan apa yang baru kudengar.

“Iya. Tau banget, hehe. Makanya gw tanya, mo pake adat apa? Hauahuahauhau,” ulangnya.

Ok, sekarang aku yakin untuk meneruskan ‘kegilaan’ malam ini dan untuk ikut ‘menggila’ juga. “Sekarang, loe sendiri ngebayangin ato ngarepin pake adat apa?” jawabku mencoba berdiplomasi.

“Hmmmm, Jawa!”

“Hah??? Situ Ambon, sini Kalimantan, ditengah-tengah ada lautaaaannn, tau???? Darimana bisa adat Jawa? Lagian kagak tau apa adat kawinan Jawa ribetnya kayak gimana? Ogahhh.”

“Emang. Loe pikir gw ga pernah ngeliput kawinan ala Jawa tujuh hari tujuh malem??? Emang gw kagum banget sama budayanya. Tapi mo kawin aja nyusahin diri bener. Kalo gw sih pengen pake baju adatnya doang, trus resepsinya cuma ‘bak buk’ en langsung bulan madu. Selesai. Acaranya pengen outdoor pesta taman di Kebun Raya atau halaman gereja depan Gambir. Bukan Katedral. Tau gereja Protestan depan Gambir?”

“Ngga pernah ngeh. Jangan tanya soal Jakarta. Ngga pernah apal.”

“Iya, jadi di situ. Trus segelintir temen-temen dan keluarga dekat yang datang, ngga boleh ada yang dandan menor. Santai ajaaaa…celana pendek juga cukup, yang penting pada cakep en cantik. Tapi my woman pasti yang paling cantik, hehe. Trus gw mo ngajak my woman traveling buat honeymoon. Bukan perjalanan mewah gitu, tapi pake motor, koboi-koboian. Waaah, pasti seru. Klo loe?

“Hmmm…gw cuma pernah cerita impian resepsi kawin gw ama Jijie. Dan gw sama banget ama dia. Jadi dulu kita pernah becanda, kalo ampe umur sekian-sekian kita ngga married-married, kita bedua aja yang married, hauhauhauahuhua. Kadang gw nyesel juga napa Jijie mesti cewek. Ha..ha..ha..”

“Nah, masalahnya adalah sama ngga nih ama gw?”

“Ada deehhh…,” aku mengelak lalu memikirkan taktik bagaimana agar aku bisa mengorek terus keterangan tentang dirinya saja tanpa aku harus membuka semua tentang diriku. Aku bisa dengan mudah akrab dengan siapa saja, tapi belum tentu aku mau membuka diriku begitu saja. Dulu aku pernah bercerita pada Jijie, susah mencari pria yang punya pikiran sama tentang acara ‘bersejarah’ kayak gitu. Lagipula, pasti keluargaku dan keluarga calonku yang aku belum pernah tahu akan datang dari kebudayaan mana di Indonesia ini dengan kuatnya ikut campur dan dimulailah resepsi berkepanjangan dan melelahkan. Mengundang beribu-ribu orang yang pasangan pangantinnya sendiri tidak mengenal. Apalagi aku anak pertama? Memang mereka tidak bisa disalahkan. Mungkin semua itu dilakukan karena mereka juga ikut senang. Jadi, aku simpan saja impian itu. Kalaupun semua teman tahu, paling hanya general-nya. Jika ada seseorang yang berpikiran sama denganku dan punya keinginan kuat untuk mewujudkan impiannya itu tanpa menyinggung ego keluarga, bisa jadi itu salah satu tanda bahwa he’s the right one. Ha..ha..ha..berlebihan mungkin. Tapi bukankah setiap impian memang harus selalu berlebihan? Hehe. Tapi tunggu, pesta taman? Depan Gereja? Hanya dihadiri sejumlah orang dari berbagai kalangan yang benar-benar dikenal dekat? Resepsi sederhana tanpa dandanan menor? Travelling koboi-koboian??? OOoOpPpsSss!!!!

Aku merasakan kepalaku mulai pusing. Untung dia tidak memaksa pertanyaannya lebih jauh. Tapi dia justru membuat aku tambah pusing saat dia mulai lagi membeberkan gambaran tentang keluarga impiannya,” Gue seneng anak kecil. Gue pengen punya 2, cowok dan cewek, haha. Trus di rumah gw harus ada anjing, Golden Retriever ato Herder. Setiap sore, gw lari bareng my woman sembari ngajak Retriever gw. Wuaahh seru. Dan gilanya, gw mulai ngebayangin lari sore itu ama loe.”

“Haaaahhhh???gw?????? Sakit jiwa!!!!” itu yang keluar. Sebenarnya, ya ampuuun. Se-Karina Margaretha itukah dia?

“Hhauhauhauahu….bodo!! Jujur deh…loe suka ngga ama gw?? Ngerasa ‘click’ ngga? Ngerasa ‘click’ ngga?”

“Suka???Hmmm..jujur aja percakapan ini menyenangkan juga. Gila soalnya. Ditengah-tengah gw memulai hidup normal lagi dengan berangkat kantor mulai hari ini setelah semingguan kemaren ngga masuk karena sakit….Eh, ada orang yang lebih ‘sakit’ nelpon gw huahauhauhauhau. ‘Click’? Lumayan!” jawabku. Aku benar-benar sudah gila juga. Pusing. Pusiiing. Pusiiiing. Benar, rasanya berkunang-kunang. Masa sih ini jodohku? Amit-amit, masa datang tiba-tiba dengan cara tidak sopan begini? Ahhhh, pasti sekedar orang-orang gila yang memang gampang menularkan semangatnya. Ayo, akal sehat bekerja sedikit dong, Karin. Haaa, paling-paling ini semua hasil usaha Jijie lagi. Pasti Jijie, seperti yang lalu-lalu juga bukan? Karenanya, pusingku berkurang.

“Maaan…beneran nih…I feel so close to you. Loe jodoh gw kali ya?” tegasnya. “So, would you be my woman??? Please….???” Waduh, suaranya berubah dari ‘gila’ jadi romantis. Sekali lagi untuk jujur, suaranya sangat menarik. Oh my God !!!! Tapi aku sudah mulai bisa berpikir jernih. Ok, aku juga mencoba selangkah lebih ‘gila’ lagi. Aku juga bisa sok romantis.

“Jim, gila loe ya…,”kataku lembut. “Gw bukan tipe orang yang langsung ‘bak buk bak buk’ kayak loe. Ok, mungkin loe bisa bilang gw heboh, seru, bisa sinting kalo ngobrol. Gw memang gampang akrab sama siapa aja. Ceplas-ceplos. Kadang itu juga bikin orang salah tanggep. Tapi sebenernya gw nggak segampang itu buat pacaran. Rata-rata pasti temenan lama dulu buat bisa bikin gw bener-bener suka. Karena justru bukan soal tampang, tapi ngerasa comfort ato nggaknya bareng seseorang. Lu nyenengin kok, bener…tapi kan gw ngga bisa bilang sekarang dong bisa jadi your woman or not???” Aku hampir tak percaya mendengar suaraku sendiri. Mengarah ke manja!!!

“Aduh say…seberapa lama sih? Ngga akan setaunan kan? Klo ngga nyampe, aku masih bisa ‘handle’ kok, hehe.”

Kata ‘aku’ mulai keluar!!! Here we go. Atmosfer telpon-telponan ini mulai ‘berubah’. Terdengar seperti sepasang kekasih long distance pacaran lewat telpon., “Ya ngga juga, kali. Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Cepet nggaknya ngerasa comfort. Aduuuh, lagian kan dah bilang kalo masih banyak yg pengen gw lakuin…”

“Ok. Bagaimana kalo diganti kalimatnya, masih banyak yang pengen ‘kita’ lakuin? Hehe. Toh, ini bakal long distance. Paling kita ketemuan weekend. Jadi banyak hal yang bisa kita lakuin hari lainnya kan? Katanya bisa pacaran long distance???” tanyanya mnggoda dengan suara yang juga…menggoda.

“Hiiihh…dasar. Bukan berarti, yah!!!” desahku manja. Huahauhauhaua, go Karin go!

“Hunny, aku suka banget cara ngomong kamu barusan. Eh…boleh kan aku panggil kamu Hunny?”

“Nope. Ngga boleh…”

“Kok Nggak? You’re my woman, right?”

“Ihh…blom bilang iya kok…”

“Tuuh kan…suka lagi cara ngomong kamu. Ok…trus maunya dipanggil apa dong?”

“Karin, Kiwin, Kaka, Iblis betina, Kepala Suku, Bibir Silet, Ketua Gerwani, Pocahontas, Pelacur…..seperti semua panggilan temen-temen gw itu, apapun terserahhhh…tapi bukan Hunny.”

“Wah…masak sih panggilan mereka pada seseram itu?”

“See, You don’t know me at all. Baru liat friendster ama nelpon pertama kali aja kok yakin amat, hehe. Ngga tau kan kenapa mereka bisa panggil gw begitu?” aku memancing agar dia sadar bahwa semua yang dia lakukan ini sebenarnya ‘tidak penting’. Karena perkenalan ini pasti akan lebih menyenangkan jika hanya menambah satu orang teman ‘heboh’ pembuat meriah hidup. Apakah semua temannya yang ‘seabreg’ itu benar-benar teman sejati hingga dia merasa tidak perlu mencari teman lagi kecuali pasangan hidup? Mungkin mereka yang dia anggap ‘teman-teman’ itu sekedar ‘kenalan’, ‘say hi friends’ yang aku sendiri merasa banyak memilikinya. Aku memilih hanya punya beberapa teman. Tapi mereka ‘benar-benar teman’.

“Hmmm…aku panggil Kitty ya?” balasnya tak peduli.

“Kitty??Nggak nyambung ya ama Karin, tapi boleh deh. Kok bisa?”

“Aku ngebayangin kamu sebenernya manja…kayak kucing, hehe. Suara kamu tadi sih, hehe. Kitty, coba bayangkan dalam tiga tahun ke depan. Ada yang 29, itu siapa? Kamu. Ada yang 28, dan itu siapa?” tanyanya menggantung berusaha agar aku yang menjawab.

“Siapa dong? Adek gw? Ha..ha..ha..selamat datang di pertanyaan jebakan Jimmy, begitu maksud kamu? Yeah, getting know you better, ha..ha..ha..” aku tidak tahan untuk tidak bercanda dengan semua kalimatnya.

“Ha..ha..ha..ok, itu Aku yaaa…,” ia menjawab sendiri. “Tiga tahun…aku mau nyicil mobil tahun depan. Tahun depannya lagi nyicil rumah dan terus punya tabungan bareng my woman. Masalah ngga buat kamu? Siapa tau kamu punya target married sebelum itu?”

“Hm?? Jadi udah ngebayanginnya bareng aku nih??” godaku. Lalu aku menjelaskan panjang lebar jika aku tidak punya target seperti itu. Dulu, saat masih belasan tahun memang aku menganggap umur 26 atau 27 adalah waktu ideal untuk melakukannya. Tapi lihat hidupku sekarang, ternyata menjadi lajang di umur ini dalam keadaanku sekarang sangat menyenangkan. Mungkin juga karena aku belum menemukan ‘the right man’. Tapi itu tidak akan membuatku panik, lantas menikah dengan siapa saja yang terlihat ‘ok’ untuk menjadi figur ‘bapaknya anak-anak’ karena balutan good looking enough-pria baik dari keluarga baik-dan mapan, bukan? Bagaimana dengan cinta? Nah, aku hanya ingin menikah dengan orang yang membuat aku jatuh cinta. Sampai umur berapapun aku menemukannya. Terlalu idealis? Setiap orang punya idealismenya masing-masing. Dan tentunya, menurutku akan bahagia jika menemukan seseorang yang berjalan bersama sepanjang sisa hidup dengan idealisme yang sama. Sulit? Ya, aku tahu itu sulit. Sangat sulit. Tidak heran, banyak orang menyerah. Apalagi, belum begitu wajar untuk ukuran perempuan Indonesia jika belum menikah pada usia 20-an. Kalaupun ada yang merasa wajar, orang-orang di sekitar mereka yang malah jadi seperti kebakaran jenggot. Aku mengingat nasihat salah satu temanku, hati-hati…ingat umur. Katanya juga, filosofi mencari pasangan saat umur belasan adalah: siapa kamu. Umur 20-25: siapa aku. Umur 26-30an: bakal jadi siapa aja yang penting ada. Ha..ha..ha..Ya mau bagaimana lagi dong, kalau aku belum di ‘kasih’ umur segini, masa mengambil apa aja yang ada, atau…boleh mengambil punya orang??? Pikirku. Hehe.

“Wow, great….You’re so me!!!” tanggapannya singkat, padat. Lalu, “Eh Kitty, aku boleh bilang sesuatu? Aku sayang kamu.” Yang ini sampai membuatku terloncat dari tempat tidurku. Aku mencari-cari bungkus rokok Sampoerna-ku. Wah, harus ngerokok nih. Aduhh, tinggal tiga batang? Mana cukup untuk menenangkan syarafku, dengan obrolan yang keliatannya tidak akan ada akhirnya ini?

“Oya??? hah..heh..hah??? Heuheuheu Yakin tuuuh??? Aduuhh, jadi pengen ngerokok kalo deg-degan, hehe” karakter Dori kembali dalam versi manja. Pasti menjijikkan buat Pixar dan membuat berang banyak kalangan jika film untuk anak-anak ada karakter perokok berat. Ha..ha..ha...
“Tuhh kan…suara kamu… kamu tau kalo kamu ngomong manja-manja en aku ada disitu….aku bakal ngapain ??” suaranya masih mencoba menggoda, yang kini kok jadi tidak terdengar ‘menggoda’ lagi buatku, ya.

“Ngga. En nggak mau tau, hehe…” aku mengelak manis sambil mulai berpikir, wahhh…kayaknya ada yang salah nih. Is he about to ask me to have sex on phone?????? He sounds driving me to do it. Ha..ha..ha..tidak heran Premium Call Phone Sex laku keras. Jangan-jangan aku berbakat kerja di sana.

“Kitty…kok gitu???” benarkan…suaranya makin menjadi.

“Ha..ha..ha..tau ngga? Aku jadi berpikir, untung juga ngobrol ini cuma lewat telpon, lho. Kamu ngga bisa liat ekspresi aku kan?? Mantan jurnalis kok mau ngelawan mantan penyiar….ha..ha..ha…”candaku masih menjalani drama suara manja seksi (menjijikkan) ini.

“Ya udah…nyerah deh ama mantan penyiar. Ampuuun dehhh. My God, I like you a lot. Kitty, trus kamu mau panggil aku apa dong?”

“Hmmm…apa yaaa??? Sai..ato Koko karena kamu pshyco? Agil mungkin…dari Gila? Heuheuehue, ”jawabku santai. Tapi aku tidak menyangka jika ternyata reaksinya menjadi sangat berbeda.

“Jadi loe ngga nganggep gw serius dari tadi? Pshyco?Jadi loe nganggep gw Pshyco?”

“Waaahh…kok sensi denger kata Pshyco?” aku tidak mau kalah. “Lha…ngga ngerasa ya, say---ko?Hehe. Eh mana pernah ada orang ngobrol baru sekali, lewat telpon doang lagi, blom pernah ketemu en kenal, blom pernah denger, baru liat2 profilenya di Friendster doang, trus ngajak kawin??? Masih ngga ngerasa gila? Kali aja sih, soalnya seperti di awal-awal ngobrol loe bilang ngga ngerasa item biarpun temen-temen loe bilang gitu, ya kan?” aku jadi tidak bisa menutupi nada sengit dalam suaraku. Saatnya menyudahi drama, nih.

“Siapa yang ngajak kawin?”

“Lha itu, my woman…my woman…Mikir dong…loe pinginnya gw selalu jawab manis-iyaaa, you’re just so me-thanks God for dropping me this gorgeus guy-exactly like what I’ve been looking for-hey,hunny of course I wanna be your woman…-gitu kan????” Kini aku menumpahkan kekesalanku.

“Nggak. Nggak gitu banget, kok. Gw Cuma kecewa aja, yang udah gw bangun dari awal, loe rusak lagi. Ternyata gw nggak lebih dari seorang pshyco buat loe. Sementara gw serius wanna know you more. Kalo ngga serius, ngapain gw nelpon loe udah 3 jam kayak gini, sementara temen-temen gw nungguin gw di Embassy. Tau gitu….” katanya terdengar berang.

“Tau gitu…Trus??? Nyesel??? Embassy buka ampe pagi, bukan? Masih sempet kan? Lagian, loe ngga menganggap ini buat nambah temen sihh…”

“Kan udah gw bilang kalo gw ngga nyari temen…nyari pasangan hidup!!! So..can’t we just skip dating???”
katanya mantap.

Obrolan kami memang berlanjut. Tapi berikutnya sangat terasa seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar lewat telpon. Bertengkar karena dia tetap merasa tidak dihargai. Dan aku bersikukuh meminta dia mengerti bahwa aku terlalu pusing dengan semua kegilaan ini. Sepertinya ‘pertengkaran’ kami tidak nyambung, ya. Aduhhh…kok bisa jadi begini??? Tiba-tiba aku muak. Sangat muak. Karin, wake up!!!! Yak, dan aku benar-benar ‘terbangun’. Siapa sih orang ini, berani-beraninya mengaduk-aduk emosi ku hanya dalam beberapa jam ngobrol. Baru kenalan pula. Aku ikut marah besar dengan Jijie. Sembari ‘bertengkar’ di telpon, aku sempat pula membeli sebungkus rokok lagi di kios depan rumah yang buka 24 jam. Karena sekarang sudah pukul 01.00 dini hari!!! Masih lamakah ini? Jika ya, berarti aku yang harus menyudahinya. Bodohnya. Bukannya dari tadi. Emang dasar, Karin lemot….lamban!!!!

“Kitty…sori…kok aku jadi gini ya…marah-marah nggak jelas ama kamu…pasti lagi sensi karena capek banget. Aku belum pulang dari pagi…subuh malah…kerjaan juga banyak banget tadi, karena deadline dari product shampoo. Ampe akhirnya Jijie ngasih liat foto kamu...aku jadi seger...trus telpon kamu...dan seterusnya...tapi sebenarnya capek ini bikin aku jadi sensi...,” katanya tiba-tiba menyudahi pertengkaran kami yang belum sempat aku sudahi sendiri sesuai rencana tadi. Benar-benar gila. Hey…tiba-tiba aku merasa tahu apa penyebab dari semua kesamaan…click…atau apapun istilahnya, yang dari tadi sempat tercipta. Mungkinkah karena dia memang ‘terasa’ seperti orang-orang dari masa laluku yang tercampur dalam satu kepribadian seorang Jimmy Abimalao? Dia bisa melompat seperti kelinci girang dan manis yang bisa tiba-tiba terlihat dan berlaku seperti serigala, itu Ferdi. Tapi cara bicara to the point dan gila, dengan gaya Jakarta-nya yang kental, bukankah itu Indra? Dan benar saja. Karena sosoknya-yang setelah kulihat dari foto friendsternya beberapa waktu kemudian, sangatlah Gerry. Tidaaaak. Aku tidak akan mau mengulang kebodohan yang sama dengan tiga orang dari masa lalu yang ingin bisa aku hapus dari ingatan, kini tergabung dalam satu orang yang akan mengisi masa depan.

Aku cuma terdiam. Tidak sanggup bilang apapun lagi. Saat dia minta untuk bicara sesuatu menanggapi permintaan maaf-nya yang berkali-kali itu, aku pun hanya bisa menjawab,” Ngga tau mo ngomong apa...speechless...sumpah...”

“Ok…I just wanna let you know…aku sayang sama kamu, Kitty. I really wanna know you more. Kalau Jumat nanti kita ketemu dan kamu ngerasa ngga mau kenal lebih jauh…kamu boleh mundur dengan cara kamu sendiri. Tinggalin aja. Terserah caranya, pokoknya cara kamu sendiri. Ngga usah pikirin aku lagi. Tapi sebelum Jumat, kasih gw jawaban if u also wanna know me more dengan cara gw. Besok kalo kamu telpon aku, berarti kita ktemu Jumat nanti. Aku akan nge-usahain apapun untuk datang ke Bdg. Iyalahhh, buat my woman, hehe….ok? Tapi kalo besok kamu ngga telpon….sayang, aku anggap semua yang malam ini percuma…dan kita nggak perlu ketemu. Yah yah yah?” katanya dengan amat sangat panjang lebar. Tidak sepenuhnya aku dengarkan dan mengerti. Karena terlalu banyak hal berlalu lalang di dalam kepalaku.

“Eh…iya?? gimana tadi?????” tanyaku bodoh. Tidak ada lagi suara si Karin heboh, gila, apalagi seksi. Dia mengulangi ‘perjanjian’ ala dirinya itu dan memintaku mengulanginya dalam bahasaku sendiri untuknya melalui telpon. Untuk memastikan aku sudah mengerti. Gila, untuk perintah ini pun aku menurut saja. Eh, sebentar. Bukankah perjanjian ini satu keuntungan? Yak, aku tinggal tidak menelponnya saja. Selesai urusan. Tidak ada acara sibuk mengelak seperti yang aku lakukan terhadap korban-korban Jijie yang dulu. Ya…aku bertekad untuk benar-benar tidak akan menelponnya.

“Ok, Kitty...aku tunggu telpon kamu besok yaaa.Damned, pasti aku ngga akan bisa kerja dengan tenang seharian...bodo ah...pokoknya aku tunggu ya sayang. Mungkin aku bakal liat foto-foto kamu di Hp aja deh, yang udah ditransfer semua dari Jijie, hehe. Sekarang kamu istirahat deh...ok?ok?”

“Ok...see you,” jawabku singkat. Lelah. Aku terlalu lelah.

“Met bobok ya,” katanya lagi.

“Thanks…sama-sama…met istirahat juga..bye...,” jawabku.

Klik.

Huaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh……ada beban berat seperti terangkat dari hatiku. Tapi pikiranku masih kacau. Badanku juga penat. Aku merokok sebatang lagi untuk memikirkan semua yang kualami. Tapi aku tidak sanggup berpikir. Yang aku ingat hanya...my woman...can we just skip dating...Jimmy...Virgie... Aku habiskan isapan rokok terakhir. Detik berikutnya...aku tertidur.